Gabriel Garcia Marquez atau yang sering disapa Gabo ini adalah seorang penulis sekaligus pelopor dari genre sastra realisme magis. Gabo lahir di Arataca, Columbia pada tanggal 6 Maret 1927. Gabo memulai kariernya sebagai seorang wartawan di surat kabar El Spactador, yakni surat kabar harian di Kota Bogota. Gabo sempat bekerja di bidang penerbitan di Venezuela dan Kuba. Gabo juga pernah bekerja di kantor berita Presa Latina di New York. Presa Latina merupakan kantor berita yang dibentuk pada rezim Fidel Castro.

Dalam dunia kepenulisan, Gabo telah melahirkan maha karyanya yang berjudul One Hundred Years of Solitude. Karyanya ini merupakan sebuah novel yang bergenre realisme magis. Dari karyanya tersebut Gabo juga mulai memperkenalkan genre baru ini ke dunia sastra. Karyanya ini telah menjadi perbincangan hangat di dunia internasional. Bahkan buku ini terjual hingga 10 juta eksemplar di terbitan pertama. Tak heran jika melalui karyanya ini Gabo mendapatkan penghargaan Nobel pada tahun 1982.

Beberapa karyanya lahir dari kisah yang pernah dialami atau yang terjadi di sekelilingnya. Pada novel One Hundred Years of Solitude ini mengisahkan tentang sebuah desa di Amerika Selatan yang jauh dari peradaban. Di desa ini hal-hal supranatural dianggap wajar dan biasa. Novel yang jika ditulis dengan bahasa Spanyol menjadi Cien Anos de Soledad ini merupakan interpretasi dari sejarah Kolombia dari awal hingga saat ini. Karya Gabo lainnya adalah El Amor en Los Tiempos del Kolera atau Cinta di Tengah Wabah Korela yang terinspirasi dari kisah percintaan orang tuanya. Karyanya ini juga mendapat atensi besar di kancah internasional.

Pada tahun 1999, Gabo didiagnosis mengidap kanker limfatik. Akan tetapi, penyakitnya ini tidak menyurutkannya untuk tetap selalu menulis dan menciptakan beberapa karya. Salah satunya, yaitu novel Living to Tell the Tale yang terbit pada tahun 2002 dan novel terakhirnya yang berjudul Memories of My Melancholy Whores pada tahun 2004. Namun, setelah sepuluh tahun, pada 17 April 2014 Gabo meninggal dunia akibat paru-paru basah.

Semangat Gabo dalam menelurkan karyanya yang bergenre realisme magis tersebut telah membuahkan hasil. Realisme magis yang dibawanya sangat membawa pengaruh besar terhadap kesusastraan dunia. Di Indonesia sendiri, ada beberapa penulis yang sudah mengusung genre realisme magis ini dalam tulisannya, contohnya penulis A.S. Laksana dan Eka Kurniawan.

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0

No products in the cart.