Apa yang terlintas di benak Sobat Litera saat mendengar kata leader? Apakah sosok yang berwibawa dan tegas, atau justru pribadi yang penuh cinta dan mengayomi? Berbicara tentang kepemimpinan, tak jarang kita dihadapkan pada dilema: haruskah seorang pemimpin bersikap tegas dan mengambil kendali penuh, atau menjadi sosok yang empatik dan terbuka terhadap setiap aspirasi anggotanya? Menjawab keresahan itu, buku Becoming Assertive Leader karya Fauziah Zulfitri hadir sebagai panduan bagi kita semua bagaimana menjadi pemimpin yang tegas, tetapi tetap peduli.

Buku ini hadir dari pengalaman dan pembelajaran penulis selama bertahun-tahun memimpin. Penulis ingin mengajak pembaca untuk menjelajahi dimensi baru dalam dunia leadership yang tidak hanya memahami arti ketegasan, tetapi juga merangkul esensi cinta. Terdapat empat Essentials, yaitu: 1) The Foundation, 2) The Solution, 3) The Balance, dan 4) Shaping the Team Culture. Setiap Essential dalam buku ini akan membantu Sobat Litera menemukan cara terbaik dalam memimpin sebuah organisasi. Yuk, simak ulasan berikut ini untuk mengetahui lebih dalam tentang berbagai hal menarik yang dibahas dalam Becoming Assertive Leader.

 

Essentials 1: The Foundation

 

Menjadi seorang pemimpin tidak hanya terbatas pada kemampuan untuk mengatur atau mengarahkan orang lain. Lebih dari itu, kepemimpinan adalah seni memengaruhi dan menginspirasi, menyentuh sisi terdalam dari karakter dan nilai-nilai pribadi orang-orang yang dipimpin. Dalam esensi pertama ini, penulis mengajak pembaca untuk memahami terlebih dahulu tentang landasan assertive leadership. Landasan atau fondasi tersebut berupa self-leadership dan kecerdasan emosi. 

Secara ringkas penulis menjelaskan bahwa self-leadership sebagai fondasi dalam memimpin orang lain. Sedangkan kecerdasan emosi menjadi jembatan untuk memahami perasaan dan kebutuhan tim demi menciptakan hubungan yang lebih hangat serta penuh empati. Dalam Essential ini dapat dipahami bahwa assertive leadership tidak hanya memegang kendali atas tim, tetapi juga atas dirinya sendiri. Inilah mengapa fondasi dari semua bentuk kepemimpinan yang sukses adalah self-leadership.

Dalam Essential ini juga dijelaskan strategi pengembangan self-leadership yang akan membantu kita untuk menjadi assertive leader. Langkah-langkah praktis yang ditawarkan penulis dapat dengan mudah diaplikasikan karena dilengkapi oleh beberapa pertanyaan pada setiap langkahnya, yang mana hal tersebut dapat menjadi bahan refleksi untuk mengenal diri sendiri lebih dalam lagi. Dengan langkah-langkah praktis tersebut, penulis berharap agar kita semua dapat membangun kepemimpinan diri yang kuat dan mencapai kesuksesan dalam kehidupan pribadi serta professional.

 

Essentials 2: The Solution

Ketika fondasi leadership sudah Sobat Litera pahami maka langkah selanjutnya adalah bagaimana assertive leadership mampu menjadi solusi, khususnya dalam memimpin tim dengan berbagai dinamika. Dunia kerja dan dinamika tim yang kompleks memerlukan pemimpin yang mampu beradaptasi, memiliki kemampuan komunikasi asertif, dan mampu mengambil keputusan yang tepat. 

Hal yang sangat menarik dalam buku ini adalah terdapat studi kasus yang relevan dan dekat dengan kehidupan seorang pemimpin. Pada Essential 2, studi kasus yang diangkat adalah kisah seorang CEO bernama Pak Anton yang menghadapi situasi sulit saat pandemi Covid-19. Ia dihadapkan pada dua pilihan: mencoba mengatasi semua masalah sendirian atau bersikap terbuka kepada seluruh tim tentang kondisi sebenarnya. Pak Anton memiih opsi yang kedua. Dari pengalaman Pak Anton ini, penulis ingin menyampaikan pesan bahwa keterampilan berkomunikasi dan bertindak secara asertif sangat penting untuk diterapkan dalam situasi krisis.

Jika pada Essential sebelumnya dibahas mengenai strategi pengembangan self-leadership, maka pada Essential ini fokus pembahasannya adalah strategi penerapan assertive leadership. Dua topik utama yang menjadi strategi dalam bagian ini adalah blueprint assertive leadership dan cara menyikapi tantangan kepemimpinan dengan ketegasan. Essential ini ditutup dengan analisis studi kasus terkait assertive leadership, di mana hasil analisis tersebut diminta untuk dituliskan secara langsung pada kolom yang telah disediakan.

 

Essentials 3: The Balance

Setelah menemukan dan menetapkan landasan leadership serta kunci sebuah assertive leadership, selanjutnya penulis akan menemani Sobat Litera untuk menemukan keseimbangan antara ketegasan dan kehangatan. Penulis menyampaikan pembahasan ini secara praktikal berdasarkan pengalaman yang diperoleh selama lebih dari dua dekade memimpin tim. Disertakan juga kisah-kisah yang penulis dapatkan dari para coachee ataupun mentee dalam sesi-sesi leadership coaching mentoring serta kisah-kisah lainnya dari tokoh-tokoh leader besar Indonesia hingga dunia.

Pernah kah Sobat Litera mendengar paradoks dalam leadership? Nah, pada Essintial ini kita juga akan belajar paradoks dalam leadership yang mencerminkan kebutuhan untuk menyeimbangkan dua aspek yang tampaknya bertentangan: cinta dan ketegasan. Terdapat empat paradoks yang bisa Sobat Liter abaca untuk penjelasan lengkapnya. Paradoks dalam leadership mengajarkan bahwa kekuatan terbesar seorang leader terletak pada kemampuannya. Mereka perlu mampu menjadi tegas dalam menjaga arah dan penuh kasih dalam mendukung timnya. Kata kuncinya adalah ‘keseimbangan’ seperti judul Essential 3 ini. 

Melalui buku ini, penulis menyampaikan berbagai ilmu yang sangat berharga, mulai dari penerapan ketegasan tanpa kekerasan, teknik dan praktik komunikasi asertif, hingga kunci kepemimpinan yang hangat dan empatis. Essential ini ditutup oleh kutipan inspiratif dari Angela Ahrendts, sosok leader perempuan lain di dunia yang dinilai memiliki gaya leadership yang efektif. Bahkan, dia dinobatkan sebagai salah satu dari The Most Powerful Women versi Forbes (2012).

“The greatest mistake that a leader can make is to disregard instincts, fail to listen attentively, and disregard the importance of teams in attaining desired outcomes”

 

Essentials 4: Shaping the Team Culture

Essential 4 menjadi Essential terakhir dalam buku Becoming Assertive Leader. Pada bagian ini, penulis menekankan pentingnya budaya kerja yang positif serta memberikan panduan untuk membangun lingkungan kerja yang efektif, inklusif, dan penuh kasih. Essential 4 ini dibuka dengan pengibaratan menarik di mana seseorang yang rela berkeliling toko untuk mencari bibit tanaman terbaik. Hal ini dilakukan karena bibit-bibit sebelumnya tidak pernah berhasil tumbuh dengan bagus atau selalu cepat mati. 

Pengibaratan tersebut menggambarkan betapa pentingnya lingkungan dalam pertumbuhan individu. Sebagus apa pun bibit tanaman, jika dia berada di tanah yang tidak sesuai kebutuhannya maka hasilnya tidak akan maksimal. Seperti halnya tanah bagi tanaman, budaya kerja menjadi bagian yang penting untuk orang-orang di dalamnya. Oleh karena itu, buku ini hadir untuk memberikan panduan dalam membangun budaya dan lingkungan kerja yang nyaman serta bahagia, karena karyawan yang bahagia di tempat kerja akan memberi kontribusi besar terhadap peningkatan produktivitas perusahaan.

 

Perjalanan dari Essential 1 hingga Essential 4 adalah proses panjang yang penuh makna. Buku ini bukan sekadar teori, tetapi juga sarat dengan praktik yang aplikatif. Penulis berhasil menyampaikan bahwa memimpin dengan cinta tidak berarti lemah, dan memimpin dengan ketegasan tidak harus kasar atau menciptakan jarak dengan tim. Buku ini sangat layak untuk direkomendasikan kepada siapa pun, khususnya bagi mereka yang sedang memimpin sebuah tim. Let’s read and become assertive leader

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.