
“Kapan punya anak?”
“Kok masih belum punya anak?”
“Berapa anak kalian?”
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa beberapa pertanyaan seperti di atas dapat melukai perusahaan seseorang. Bagi orang yang melontarkan pertanyaan tersebut mungkin beranggapan bahwa apa yang ia tanyakan hanyalah pertanyaan sepele. Namun, tidak bagi pasangan suami istri yang sudah lama menunggu-nunggu kehadiran buah hatinya. Ada yang menunggu selama beberapa tahun, bahkan tidak sedikit yang harus bersabar hingga 10, 20 tahun, atau lebih.
Kisah Tia dalam novel Jangan Berhenti di Tengah Badai karya Hastuti Mahmun merupakan salah satu contoh nyata perjuangan tersebut. Tia dan suaminya telah menikah selama dua tahun namun belum juga dikaruniai anak. Ironisnya, pertanyaan-pertanyaan menyakitkan itu justru datang dari orang-orang terdekatnya. Tentu saja Tia dan suaminya tidak tinggal diam. Mereka melakukan berbagai upaya untuk menjemput amanah dari Tuhan, termasuk memeriksakan diri ke dokter spesialis kesehatan reproduksi dan fertilitas.
Bagaimana kelanjutan perjuangan Tia dalam menanti kehadiran buah hati? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.
Perjuangan Mendapatkan Buah Hati

Seperti yang disampaikan sebelumnya, novel ini bercerita tentang perjuangan Tia dan suaminya dalam mendapatkan buah hatinya. Lebih dari itu, novel ini juga memberikan banyak pengetahuan baru dalam dunia kesehatan, khususnya mengenai kesehatan reproduksi dan kandungan. Seseorang yang ingin melakukan program hamil perlu mempersiapkan diri dan pasangannya, baik fisik, mental, maupun finansial. Cek kesehatan menjadi hal utama yang perlu dilakukan. Seperti yang disampaikan dalam novel ini, dalam kasus infertilitas, faktor masalah bukan hanya dari istri, tapi bisa juga dari suami. Maka dari itu, pemeriksaan menyeluruh dari kedua belah pihak sangat diperlukan.
Tokoh Dokter Wicaksono memberikan penjelasan dengan detail dan mudah dipahami oleh pembaca. Meskipun terdapat beberapa istilah medis, penulis menyertakan penjelasan tambahan atau catatan kaki untuk membantu pembaca memahami konteksnya. Hal ini membuat novel ini tidak hanya menyentuh secara emosional, tetapi juga edukatif. Penjelasan dari dokter juga membuka wawasan pembaca mengenai berbagai pilihan dalam program kehamilan serta persiapan lainnya.
Dokter menyarankan untuk melakukan program inseminasi atau bayi tabung kepada keluarga ini. Berbagai proses panjang harus mereka lalui. Rasa sakit dan perih yang Tia rasakan dalam proses mempersiapkan ini sungguh luar biasa. Sebagai pembaca, kita pun turut merasakan emosi yang sama. Tahapan-tahapan dalam mempersiapkan kehamilan melalui program bayi tabung dijelaskan dengan detail oleh penulis. Novel ini dapat menjadi referensi bacaan yang ringan untuk pasangan yang sedang mempersiapkan program hamil.
Tragedi Semanggi

Karena latar waktu novel ini yang dimulai pada tahun 1995 maka mereka turut merasakan beberapa tragedi yang terjadi pada tahun 1998, salah satunya yaitu Tragedi Semanggi. Penulis dengan cerdas menempatkan peristiwa ini ke dalam buku sehingga pembaca tidak hanya disuguhkan kisah dan perjuangan keluarga Tia dan buah hatinya, tetapi juga diajak menyelami konteks sosial dan politik Indonesia pada masa itu.
Malam-malam bulan Mei di Jakarta terasa sangat mencekam. Penulis menceritakan bagaimana kondisi Jakarta yang seperti kota mati akibat terjadinya aksi demonstrasi, kerusuhan, serta aksi penjarahan di berbagai tempat, terutama yang dimiliki oleh warga keturunan Tionghoa. Nuansa ketegangan, kecemasan, dan kekacauan digambarkan dengan detail, membuat pembaca seolah-olah turut merasakan situasi genting tersebut.
Seminggu setelah kerusuhan Mei, kondisi negara masih belum stabil. Kondisi ekonomi juga makin mengenaskan. Tragedi Mei ini ternyata meninggalkan rasa trauma pada buah hati Tia, Olan. Demi kesehatan anaknya, Tia dan suaminya memutuskan untuk pindah rumah. Lokasi rumah mereka sebelumnya yang berada di Kapling Bulak, Klender, menjadi tempat lalu lalang orang-orang yang membuat kerusuhan. Hal inilah yang menjadi penyebab Olan trauma. Keluarga ini akhirnya menemukan perumahan yang lebih tenang.
Melihat Pertumbuhan Olan

Dalam novel ini, kita juga akan belajar mengenai pertumbuhan seoarang anak. Olan, anak pertama dari Tia ternyata memiliki tingkah laku yang berbeda jika dibandingkan dengan anak lain yang seusianya. Ia tidak akan main yang kotor-kotor apalagi sesuatu yang membahayakan. Di lain sisi, dia adalah anak yang cerdas. Olan sudah mampu berbicara dengan lancar dan lugas saat usianya belum genap empat tahun. Namun, ada beberapa contoh yang diceritakan oleh penulis bahwa Olan terkadang menggunakan bahasa yang terlalu dewasa, meningat usianya yang masih termasuk anak-anak.
Selain mendapat ilmu baru mengenai karakter seorang anak yang berbeda-beda, dalam buku ini pembaca juga akan banyak belajar tentang sikap dan pendekatan yang perlu dilakukan oleh orang tua jika memiliki anak dengan kondisi yang sama dengan Olan. Tia dan suaminya yang pertama kali menjadi orang tua tidak pernah berhenti belajar. Mungkin cara yang mereka tempuh belum sepenuhnya tepat, tetapi ketulusan dan konsistensi mereka menjadi kekuatan utama dalam mendampingi tumbuh kembang Olan.
Novel ini menceritakan dengan detail bagaimana pertumbuhan Olan dari tahun ke tahun. Cerita Olan pada novel ini berlanjut hingga ia berhasil menamatkan pemdidikan di University of Malaya, sebuah pencapaian yang membanggakan dan menjadi bukti nyata dari perjuangan panjang keluarganya. Keberhasilan Olan juga menjadi inspirasi bagi para pembaca bahwa setiap anak memiliki potensi besar jika mendapatkan dukungan yang tepat dan penuh cinta.
Anak Gifted, Apakah Itu?

Saat Olan masih prasekolah, ia dibawa ke lembaga psikologi UI Salemba. Di sana ia diobservasi serta melakukan tes karena kemungkinan dia memiliki kelebihan khusus. Dan benar saja hasil tes dan observasi tersebut menunjukkan bahwa Olan dalah anak yang memiliki empati tinggi, kreatif, imajinasi tinggi, suka berbicara sendiri, serta lebih cepat dalam menangkap instruksi dan mudah paham. Kondisi yang dialami oleh Olan biasa disebut anak gifted.
Dalam buku ini pembaca juga diberikan penjelasan mengenai karakteristik anak gifted. Anak-anak gifted sangat cerdas dan berbakat. Meski masih kecil, mereka sering kali memiliki cara berpikir yang jauh lebih dewasa dibandingkan anak seusianya. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami pola asuh yang tepat agar anak gifted tumbuh sesuai dengan kodrat dan kemampuannya. Tia dan suaminya pun harus membimbing dan mengasuh Olan sesuai dengan usianya. Meskipun anak-anak gifted memiliki kecerdasan di atas rata-rata, tetapi dia juga memiliki kelemahan. Anak-anak gifted sering dianggap nakal dan tidak suka mendengarkan di sekolah, padahal sebenarnya mereka sudah memahami apa yang diajarkan.
Penjelasan sekilas mengenai anak gifted menjadi penutup artikel ini. Masih banyak pelajaran yang dapat dipetik dalam novel ini. Sobat Litera bisa membaca langsung kisah Olan dalam novel Jangan Berhenti di Tengah Badai karya Hastuti Mahmun. Membaca novel ini bukan hanya sebagai bacaan ringan, tetapi juga sarat dengan ilmu parenting yang bermanfaat. Gaya bahasa yang digunakan pun ringan dan mudah dipahami, sehingga cocok dibaca oleh siapa saja, tidak terbatas pada ayah dan bunda saja.
