Pernikahan adalah sebuah ikatan suci antara dua insan yang mempunyai banyak perbedaan. Ketika dua insan tersebut memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan maka segala bentuk perbedaan yang ada sudah diterimanya dengan sepenuh hati sehingga dapat memberikan warna baru yang membawa kebahagiaan terhadap kehidupan rumah tangga. Ikatan pernikahan melibatkan komitmen lahir batin untuk saling mencintai, menghormati, dan bertanggung jawab satu sama lain hingga akhir hayat.

Namun kenyataannya, dunia pernikahan tidak serta merta berisi kebahagiaan, kadang kala perlu mengarungi sebuah badai besar atau sebuah arum jeram. Apalagi saat ini semakin banyak pemberitaan tentang gagalnya sebuah rumah tangga akibat dari berbagai macam faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Oleh karena itu, untuk melalui arum jeram tersebut diperlukan tim yang kompak dan mampu mengatur strategi sehingga ujian demi ujian dapat terselesaikan dengan baik dan ikatan tersebut bisa sampai ke tujuan bersama yang semua orang harapkan. 

Membaca kisah-kisah pernikahan dalam sebuah buku juga bisa menjadi wadah untuk refleksi dan renungan. Dan harapannya dapat memberikan pembelajaran yang sangat berarti untuk kehidupan rumah tangga kita. Salah satu buku yang bisa Sobat Liter abaca adalah buku Arung Jeram Pernikahan karya Anna Ruswan. Buku ini berisi kumpulan kisah para istri yang memperjuangkan pernikahannya. Melalui buku ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk mengenal berbagai asus kekerasan dalam rumah tangga yang ternyata masih banyak terjadi di lingkungan sekitar kita. Berikut adalah beberapa hal yang dibahas dalam buku ini.

 

Ibadah Terpanjang dalam Hidup

Semua orang sudah tahu bahwa ibadah terpanjang dalam hidup adalah pernikahan. Dalam Islam, pernikahan adalah bentuk ibadah yang mencerminkan komitmen dan pengabdian seumur hidup antara suami dan istri. Ibadah ini tidak hanya tercermin dalam prosesi akad nikah semata, tetapi juga mencakup seluruh aspek kehidupan berumah tangga hingga membentuk keluarga yang penuh ketenangan (sakinah), cinta kasih (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah).

Buku ini dibuka dengan bab “Menapak Hari Penuh Asa”, bab yang menceritakan bagaimana seorang ayah yang melepaskan putri tercintanya dan menyerahkannya kepada seseorang yang dipercaya dapat memberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebagai orang tua, rasa khawatir hadir di benak ayah Dewi. Apakah sudah benar kuserahkan anakku kepada lelaki ini? Akankah anakku diperlakukan baik? Akankah anakku bahagia? Dan pertanyaan “Apakah” “Apakah” lainnya. Namun tentu, semua kekhawatiran itu sudah pernah didiskusikan sebelumnya antara anak dan orang tua.

Pesan dari ayah Dewi yang bisa kita selalu ingat juga, “Kita harus dapat melakukan keterbukaan dalam berkomunikasi. Dalam keluarga, tak boleh ada yang disembunyikan. Suka duka dinikmati bersama. Setiap menjalin hubungan dengan siapa pun itu, harus selalu bersikap baik. Pilihlah bahasa yang menyejukan saat berbicara.” Perjalanan dalam rumah tangga menjadi proses belajar antara suami dan istri serta ayah dan ibu. Oleh karena itu, komunikasi dan saling terbuka menjadi kunci utama agar segala hambatan dalam perjalanannya senantiasa dapat teratasi. 

 

KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga)

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa buku ini lahir karena penulis melihat akan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang tercatat dari tahun ke tahunnya semakin meningkat. Pelakunya tak lain adalah orang yang dikenal baik dan dekat dengan korban. Salah satunya, tindak kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadap istri atau sebaliknya. 

Dalam buku ini terdapat beberapa kisah para istri yang mengalami kekerasan oleh suaminya. Dengan bahasa yang lugas, menarik, dan imajinatif tetapi mudah dipahami, Anna Ruswan berhasil menguraikan kisah-kisah tersebut dengan baik. Pada beberapa kisah, tersampaikan dengan jelas bahwa kekerasan memberikan dampak yang sangat buruk untuk keberlangsungan rumah tangga dan para korban. Ketika pelaku melihat korban yang tidak berdaya, terluka hingga berdarah, pelaku tetap tidak peduli seakan tidak terjadi apa-apa. Begitu jahatnya mereka.

Dr. Lies Marantika, mantan Komisaris Komnas Perempuan, yang juga turut memberikan testimoni dalam buku ini, menyampaikan bahwa tindak kekerasan termasuk ke dalam tindak kejahatan atau kriminal. Namun, sering kali segala tindak kekerasan tersebut dibungkam oleh korban hanya demi menjaga keutuhan rumah tangga. Buku ini bukan hanya sekadar karya tetapi menjadi salah satu wadah untuk menyuarakan perempuan-perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga yang suaranya terbungkam.

 

Aku Tidak Gila 

“Aku Gila?” adalah salah satu bab dalam buku ini. Bab ini berkisah tentang pernikahan Wati dan suaminya, Yan, yang sudah berjalan 21 tahun. Waktu yang terbilang cukup lama dan anak-anak mereka juga sudah berkuliah. Tiga tahun terakhir Yan memiliki karier yang cemerlang sebagai kepala di suatu dinas. Namun sejak saat itu, rumah tangga mereka dipenuhi dengan pertengkaran yang disertai kata-kata maupun pukulan yang dilakukan Yan. Jika hal tersebut terjadi, Wati hanya bisa memendamnya. 

Pada suatu pagi, Yan melempar sepatu yang akan dipakainya karena Wati menguak sebuah fakta pengkhianatan yang dilakukan oleh Yan. Sepatu tersebut mengenai hidung Wati. Kemudian apa yang selanjutnya dilakukan oleh Yan? Ia menelepon dokter di seberang sana sehingga datang mobil ambulans RS Belajiwa. Ia juga mengatakan kepada tenaga medis bahwa gejala sakit jiwa istrinya sedang kambuh. Ternyata ini bukan kali pertama Yan menuduh istrinya gila, tuduhan tersebut selalu disampaikan saat mereka bertengkar. 

Siapa pun yang membaca kisah ini akan merasa marah besar terhadap apa yang dilakukan oleh tokoh Yan. Orang yang paling dekat, yang seharusnya paling memahami apa yang terjadi justru menjadi orang yang paling membahayakan. Di luar sana tidak menutup kemungkinan banyak perempuan yang mengalami kekerasan serupa dengan apa yang dialami oleh Wati, bahkan bisa lebih dari pada itu.  

 

Trauma

Kekerasan yang terjadi kepada setiap orang sudah pasti akan membekas dan menjadi trauma psikologis. Dalam buku ini pembaca bisa tahu dengan jelas bahwa setiap korban kekerasan dalam rumah tangga merasakan trauma yang mendalam. Masih dalam bab “Aku Gila?”, Wati tidak mau untuk kembali ke rumah karena rumah bukan lagi tempat aman baginya. Wati memilih untuk tinggal di Rumah Aman, lembaga yang bergerak di bidang kemanusiaan, menyelamatkan banyak perempuan yang mengalami kekerasan fisik maupun nonfisik. Wati mengalami trauma atas kekerasan yang dilakukan suaminya.

Beberapa orang yang mengalami trauma bahkan bisa tetap mengingat setiap detail kejadian yang menyakitkan di masa lalu tersebut karena ternyata rasa trauma yang dialaminya tidak benar-benar sembuh. Untuk itu, diperlukan sebuah tindakan agar trauma bisa pulih. Memulihkan trauma merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan waktu tidak sebentar. Proses pemulihan trauma membutuhkan usaha, ketekunan, komitmen, dan dukungan yang tepat. Apa pun bentuk traumanya, bantuan profesional dapat menjadi jalan yang tepat untuk ditempuh dalam memulihkan trauma.

 

Buku Arung Jeram Pernikahan menjadi hadiah terindah untuk perempuan di mana pun mereka berada. Buku ini turut mengampanyekan stop kekerasan verbal, fisik, atau pun seksual. Selain itu, juga memotivasi sesama perempuan untuk menjadi perempuan yang otonom serta bebas dari kekerasan. Pesan-pesan dalam buku ini akan menyelamatkan perempuan di seluruh belahan dunia.

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.