
Di tengah perubahan cepat dunia kerja, Gen Z muncul dengan gaya dan karakteristik yang unik. Generasi ini membawa warna baru dalam dunia kerja. Kehadiran Gen Z ternyata juga memberikan tantangan tersendiri, khususnya pada remote area, lokasi terpencil yang jauh dari hiruk pikuk ibu kota. Belum lagi adanya gap antargenerasi.
Untuk menjawab tantangan tersebut, buku Generation Bridge: Leading Zoomers with Boomer Wisdom in Remote Workplaces karya Bambang Winanto, hadir ke tengah-tengah kita. Buku ini menjadi jembatan antargenerasi, bahkan empat generasi sekaligus—Baby Boomer, Gen X, Gen Y, dan Gen Z. Dengan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing generasi serta strategi inovatif, buku ini membantu membangun tim lintas generasi yang solid.
Apa saja yang dibahas dalam buku ini? Simak ulasannya berikut ini, Sobat Litera!
Siapa Itu Gen Z?

Buku ini dibuka dengan percakapan antara Andi, Rina, dan Dewi yang berprofesi sebagai Human Capital Director. Mereka membahas tentang penyebab tingginya turnover karyawan Gen Z di lokasi remote perusahaan mereka. Diskusi ini merupakan langkah awal dalam perjalanan panjang untuk membangun lingkungan kerja yang lebih inklusif dan mendukung semua pihak di perusahaan Dewi. Sebelum membahas lebih jauh tentang Gen Z, seperti apa sih sebenarnya karakter Gen Z itu? Apakah benar keberadaan istilah mental tempe, manja, maunya serba instan, dan healing melulu menggambarkan karakter Gen Z? Mari kita simak penjelasan Bambang Winanto dalam buku ini.
Generasi Z atau Gen Z adalah sebutan untuk generasi yang lahir antara tahun 1997 dan 2012. Gen Z tumbuh di era digital, di mana internet dan teknologi menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Gen Z sering dianggap sebagai digital natives karena mereka tidak pernah mengalami dunia tanpa internet. Mereka cenderung lebih mandiri, kreatif, dan kritis dibandingkan generasi sebelumnya. Dalam dunia kerja, Gen Z cenderung mengutamakan fleksibilitas, work life-balanced, dan kesempatan untuk terus belajar serta berkembang. Nah, untuk bisa mengenal Gen Z lebih dalam, penulis mengajak kita untuk memahami Gen Z, generasi yang akan membawa kita ke masa depan lebih cerah.
Selain membahas karakteristik Gen Z, penulis juga membahas dengan detail seperti apa kesempatan, tantangan, strategi penting untuk Gen Z, serta gaya komunikasi yang digunakan oleh Gen Z. Untuk memahami gaya komunikasi ini, penulis memberikan gambaran berupa percakapan antara si anak Gen Z dan si anak Gen Y. Dari percakapan tersebut didapat bahwa karakteristik komunikasi Gen Z salah satunya autentik dan personal. Tidak berhenti di situ, penulis juga mengungkap sebuah gaya kepemimpinan untuk memimpin Gen Z.
Bekerja di Remote Area

Remote area alias daerah terpencil memiliki tantangan tersendiri bagi seorang pekerja, terutama seorang pemimpin. Dari segi fasilitas, tentu daerah ini akan jauh berbeda dari kota besar. Tempat-tempat ini sering kali memiliki akses terbatas, seperti konektivitas internet yang buruk, kurangnya fasilitas kesehatan, kurangnya infrastruktur dan aksesibilitas, serta terbatasnya kesempatan bersosialisasi. Bambang Winanto memperkenalkan kepada kita semua seperti apa kondisi remote area itu, sehingga ketika suatu saat nanti jika ditempatkan di remote area, maka kita akan jauh lebih siap.
Bekerja di remote area dapat menyebabkan perasaan kesepian dan terisolasi, terutama bagi Gen Z yang terbiasa dengan interaksi sosial intens. Lantas, apa yang perlu diperhatikan oleh perusahaan untuk mengatasi hal tersebut? Penulis memberikan langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh perusahaan guna menciptakan lingkungan kerja yang mendukung interaksi sosial dan kesejahteraan karyawan.
Pada bab ini, penulis juga membahas tentang work-life balance yang menjadi tantangan utama bagi banyak karyawan, terutama bagi mereka yang bekerja di remote area. Ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat menyebabkan stres, kelelahan, dan bahkan burnout. Belum lagi karena remote area dapat menyebabkan perasaan kesepian, maka hal tersebut dapat menambah stres karyawan. Nah, untuk menjaga keseimbangan ini, penulis memperkenalkan istilah holistic employee wellbeing yang terdiri dari lima pilar utama. Seperti apakah kelima pilar itu? Penjelasan detail mengenai work-life balance, bisa Sobat Litera baca dalam buku ini.
Bagaimana Cara Memimpin Gen Z?

Pada bagian inti buku, kita akan menjelajahi bagaimana cara memimpin Gen Z. Sebelum itu, penulis menguraikan konsep 5 levels of leadership dari John Maxwell, dan bagaimana relevansinya dengan Gen Z dan Gen Y. Dari kelima level kepemimpinan tersebut, ternyata didapat kesimpulan bahwa Gen Z sesuai dengan kepemimpinan level 5 (pinnacle) dan Gen Y sesuai dengan kepemimpinan level 3 (production). Nah, kalau kepemimpinan yang sama-sama sesuai untuk Gen Z dan Gen Y adalah level 4 (people development).
Gen Z dikenal sebagai generasi yang vokal dan menginginkan pemimpin yang benar-benar peduli serta mendengarkan aspirasi mereka. Salah satu strategi kepemimpinan yang bisa dijalankan adalah Empathy Leadership. Gen Z lebih suka jika lebih banyak didengar dan dipahami kebutuhan mereka sehingga strategi ini akan membantu membangun hubungan yang kuat antara pemimpin dan anggota tim. Selain itu, juga mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif serta produktif.
Penulis yang juga seorang leader berpengalaman memimpin Gen Z turut membagikan pengalamannya mengenai karakteristik kepemimpinan yang disukai oleh Gen Z. Setidaknya terdapat tiga karakter pemimpin yang disukai oleh Gen Z, di antaranya memahami perspektif, transparansi dalam pengambilan keputusan, dan mendukung kesejahteraan. Dengan diberikannya fakta-fakta yang terjadi di lapangan mengenai sosok Gen Z, maka buku ini menjadi buku yang wajib dibaca oleh para leader di luar sana.
Case Study and Best Practice

Akhir dari buku ini, penulis menyajikan berbagai case study dan best practice pada para karyawan Gen Z. Penulis memulai dengan salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia dalam bidang kontraktor atau biasa disebut dengan Mining Contractor Company. Perusahaan ini menyadari bahwa sangat penting untuk merangkul generasi muda, khususnya Gen Z. Oleh karenanya, program-program leadership yang dirancang mempertimbangkan karakteristik unik dan preferensi Gen Z. Salah satu programnya yaitu Leadership Development Program (LDP).
Selain perusahaan tambang, ada juga studi kasus dari perusahaan agrobisnis terbesar di Indonesia yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit. Perusahaan ini telah mengembangkan berbagai program leadership yang bertujuan mencetak pemimpin-pemimpin yang mampu merangkul dan memotivasi Gen Z agar tetap happy serta produktif. Dan salah satu programnya menekankan pentingnya kesejahteraan karyawan dan keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi. Dengan begitu, Work-life balance bukan lagi keinginan semata tetapi menjadi sebuah kenyataan yang bisa dinikmati oleh setiap karyawan. Perusahaan yang seperti ini akan menjadi incaran para Gen Z.
Keberadaan empat generasi dalam satu waktu di dunia kerja saat ini adalah fenomena yang unik dalam sejarah workforce. Dalam buku ini, penulis selalu menyampaikan bahwa setiap generasi membawa nilai, pengalaman, dan cara pandang yang berbeda. Jika keberagaman ini dikelola dengan strategi yang tepat maka akan menjadi kekuatan yang dahsyat. Generation Bridge adalah panduan bagi para pemimpin yang ingin memaksimalkan potensi lintas generasi di lingkungan kerja remote. Selamat membaca dan mengambil banyak ilmu dari buku ini!
