
Baper adalah kata yang sudah tidak asing lagi kita dengar. Kata ini populer di kalangan anak muda. Baper sendiri singkatan dari bawa perasaan. Jika kita terlalu sensitif dalam merespon sesuatu maka kita akan dianggap orang baperan. Apa sih makna sebenarnya dari baper itu?
Menjadi orang sensitif dan baper bukanlah hal yang mudah terutama penerimaan orang lain terhadap perasaan itu. Bagaimana kita seharusnya menyikapi rasa baper? Dan salahkah jika kita memiliki perasaan itu? Buku “Baper is My Power” karya Ley Suprapto menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut. Buku ini adalah perjalanan luar biasa yang dilalui oleh Ley dalam memahami perasaannya, menerimanya hingga melahirkan dirinya yang baru.
Memahami Makna Baper
Stereotip yang melekat di masyarakat terkait orang baper adalah suatu hal yang kurang baik. Padahal yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah karena adanya perasaan, akal, dan pikiran. Dalam mengolah perasaan tentu setiap orang berbeda beda karena lahirnya perasaan tersebut disesuaikan dengan karakter yang dimilikinya. Ada orang yang perasaannya sensitif atau sering kita sebut “baperan”. Pernahkah diri kita sendiri dicap sebagai seseorang yang “baperan” oleh orang lain? Salahkah jika kita memiliki perasaan tersebut?

Perkataan “Gitu aja, kok, baper” sudah tak terhitung lagi Ley dengar, kita semua bahkan juga sering mendengar hal yang sama. Padahal tidak masalah menjadi orang baperan. Buku ini memberikan penjelasan kepada kita akan hal tersebut. Selama puluhan tahun Ley terjebak dalam lingkungan yang memberikan contoh bahwa tidak menunjukkan atau mengekspresikan perasaan adalah simbol kekuatan, bahwa perasaan itu tidak penting. Anggapan tidak baik kepada orang baperan membuat otak dan badan terprogram untuk tidak merasakan sakit, sedih, atau emosi negatif lainnya. Dampak lainnya banyak sekali yang telah dikupas tuntas di dalam buku ini.
Perjalanan Ley menjadi seorang pemimpin merupakan salah satu faktor lahirnya buku ini. Persepsi menjadi seorang pemimpin yang tidak boleh baper merupakan persepsi yang salah. Ley telah membuktikannya, melalui buku ini ia menceritakan bahwa kebaperannya lah yang membuat ia berhasil menumbuhkan anggota tim di ekosistem yang penuh tantangan dengan rekam jejak 0% team resignation selama dua tahun. Alih-alih membangun kompetisi, Ley menggunakan perasaannya untuk membangun rasa aman bagi timnya. Sekali lagi, tidak masalah menjadi orang baper.
Bagaimana Menyikapi Rasa Sensitif atau Baper?

Menurut Ley, menjadi orang yang sensitif adalah suatu hal sulit. Pembentukan dari lingkungan yang tidak boleh menyampaikan perasaan negatif itulah yang mengakibatkan rasa sulit. Perasaan tersebut terkurung di dalam diri kita dan akan meledak suatu ketika. Begitu juga yang dirasakan oleh Ley, setiap kali ingin marah, ia melampiaskannya pada benda-benda mati seperti membanting pintu atau barang. Padahal seharusnya perasaan sensitif adalah perasaan yang valid dan tidak ada larangan untuk mengungkapkannya.
Di buku ini, Ley membahas lebih banyak terkait mentalitas korban akibat pola buruk dalam mengungkapkan perasaan. Kunci keluar dari semua kejadian negatif adalah diri sendiri beserta identitasnya. Apa yang perlu dilakukan kepada diri sendiri jika kita sebagai korbannya? Ley mengungkap cara-caranya dengan detail dan memandu setiap langkah perjalanan yang sulit ini. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah terhubung kembali dengan diri sendiri dengan meredam suara dan keributan yang selama ini diserap dari sekitar.
Lewat buku ini, menyikapi rasa sensitif atau baper akan kalian temukan jawabannya. Ley telah memastikan akan hal itu. Merasa malu dengan kesensitifan bisa dikonversi menjadi energi yang meluap-luap; energi untuk menyebarkan cinta dan harmoni. Saat rasa takut dan malu akan rasa kesensitifan itu datang, maka duduklah sejenak dan ingatlah bahwa kita berharga serta keberadaan kita dihargai oleh orang lain.
Menerima Diri, Indah dan Buruknya

Buku ini juga tak lepas dari perjalanan penyembuhan dan terhubung kembali kepada diri sendiri. Ley memberikan gambaran kepada kita bagaimana caranya menerima diri kita, indah dan buruknya. Ada dua hal penting dalam pembahasan ini di antaranya yaitu menghapus rasa tidak cukup dan menghapus ketakutan akan ditolak. Dua perasaan yang bisa membuat kita merasa terisolasi, takut untuk mengekspresikan diri, hingga membuat diri kita menggunakan “topeng” dalam keseharian.
Ley memberikan kunci penyembuhan dan metode akan rasa tidak cukup terhadap dirinya dan tentu bisa kita terapkan untuk diri kita juga. Pertama adalah menyadari pemicunya, kemudian mengetahui datangnya “warisan emosi”. Berbagai metode yang digunakan oleh Ley dijelaskan dengan detail dalam buku ini. Catatan besar dari Ley dalam penyembuhan yaitu mengekspresikan trauma atau perasaan akan membantu proses penyembuhan, terlepas dari apapun respons yang kita terima.
Apakah kalian pernah merasa takut akan ditolak? Misalnya saja ketika ingin meminta bantuan dari orang lain, belum juga diucapkan permintaan bantuan tersebut tetapi kita sudah beranggapan bahwa orang lain akan enggan atau menolak untuk membantu kita. Rasa seperti ini perlu kita hapuskan. Ley menegaskan bahwa semua ketakutan ternyata hanya ilusi belaka. Di saat kita meminta tolong, dunia akan menyambutnya. Kalaupun ada yang menolak, kita tidak perlu lagi mengaitkannya dengan konsep unworthy (tidak berharga).
Baper Bisa Jadi Kekuatan

Ley menjelaskan dalam buku ini bahwa untuk menjadikan perasaan sebagai kekuatan maka perlu suatu konsep khusus, Ley menggunakan konsep emotional bank account atau rekening bank untuk perasaan yang diperkenalkan oleh Stephen R. Covey. Konsep rekening bank emosi sama seperti prinsip penggunaan rekening bank uang. Kita perlu menabung agar bisa menarik saldonya. Ley merangkum konsep tersebut setidaknya menjadi enam cara untuk menabung atau menambah saldo utamanya di orang lain. Salah satu dari enam konsep tersebut adalah mengerti tentang orang lain. Menurut Ley mengerti di sini termasuk secara aktif mendengarkan apa yang orang lain katakan kepada kita, dan berempati dengan perasaan mereka.
Ley berhasil menulis buku ini dengan sangat luar biasa dan berhasil mewujudkan harapan besarnya yaitu membantu kita yang sedang terjebak dalam lingkaran rasa takut karena berbeda, takut mengekspresikan kebutuhan diri sendiri, dan takut menjadi diri sendiri yang sebenarnya. Setelah membaca buku ini, rasa takut, rasa tidak berharga serta perasaan-perasaan lainnya yang tumbuh akibat dari terlalu lama memendamnya, berubah menjadi kekuatan besar untuk mencapai mimpi-mimpi kita.
Perjalan panjang yang ditelusuri oleh Ley mulai dari proses penyembuhan, penemuan diri, dan manifestasi realitas yang baru membuatnya tersadar bahwa tidak perlu malu menggunakan hati atau perasaan. Lebih dari itu, buku ini tak hanya memberikan metode khusus dalam setiap perjalannya, namun kita diminta untuk mempraktikkannya secara langsung dimulai dari mengisi kolom pada setiap metode yang telah Ley siapkan di dalam buku. Menarik bukan? Sekarang sudah waktunya Anda untuk memahami makna baper lebih luas lagi dan menjadikan baper sebagai kekuatan utama Anda.
“Alih-alih menjadikan kebaperanmu sebagai batasan, jadikan ia kekuatan.”

