Setelah membaca judul di atas, mungkin Sobat Litera akan bertanya-tanya, emang ada ya orang tua yang menyebalkan? Orang tua seperti apa sih yang dianggap sebagai orang tua menyebalkan itu? Atau mungkin Sobat Litera ingin protes karena orang tua yang telah mendidik anak-anaknya sepenuh hati dianggap menyebalkan. Semua pertanyaan itu akan terjawab jika Sobat Litera membaca buku karya Sri Wulandari yang berjudul “Jangan Jadi Orang Tua Menyebalkan”.

Buku yang ditulis oleh Sri Wulandari, seseorang yang berpengalaman dalam dunia parenting dan pendidikan, menyimpan segudang ilmu pengetahuan yang akan memandu orang tua dalam melakukan perannya. Apa saja yang dibahas dalam buku ini? Berikut kami bagikan ulasannya.

 

Orang Tua Kadang Menyebalkan

Sebagai seseorang yang pernah berasa di masa kanak-kanak, apakah kita pernah merasa orang tua kita menyebalkan? Disadari atau tidak, ternyata orang tua kita kadang menyebalkan. Banyak hal yang orang tua inginkan terhadap anak-anaknya. Namun, jika ada hal yang tidak sesuai dengan harapannya maka orang tua merasa anak tidak patuh. Sikap ini menjadi salah satu penyebab orang tua kadang menyebalkan.  

Sebagai pembuka pada buku ini, Sri Wulandari melakukan dialog ringan dengan anak-anak yang ia temui. Mereka mengungkapkan perasaan dan pemikirannya mengenai perlakuan orang tuanya selama di rumah. Usia anak-anak yang penulis wawancarai mulai dari 7 sampai 12 tahun. Dari hasil dialog tersebut, Sri Wulandari memberikan beberapa contoh sikap yang menyebabkan orang tua menjadi pribadi menyebalkan. Mulai dari sering memerintah, membandingkan, mudah marah, dan juga istruksi untuk segera makan. Hal sederhana tersebut bisa menjadi awal mula ketegangan pada hubungan anak dan orang tua.    

Selama ini, para orang tua tidak jarang mengabaikan perasaan anak. Padahal, mendengarkan dan memahami perasaan anak adalah hal yang sangat penting dan harus dilakukan oleh orang tua. Buku ini menjadi pembawa pesan pengabaian tersebut dan tentunya menjadi evaluasi serta introspeksi diri bagi orang tua dalam mengemban tanggung jawabnya untuk mendidik dan mengasuh anak.

 

Bagaimana Cara Mendidik dan Mengasuh Anak?

Model pendidikan dan pengasuhan anak juga turut menjadi pembahasan utama dalam buku ini. Sri Wulandari mencontoh model pendidikan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW bahwa untuk menumbuhkan karakter anak maka bisa dilakukan dengan memberi contoh, menasihati, memperingatkan, dan memberi hukuman. Pada model pendidikan ini Sri Wulandari juga menegaskan bahwa hukuman menjadi alternatif terakhir sebagai tindakan untuk meluruskan kesalahan tingkah laku anak.

Selain metode pendidikan anak, Sri Wulandari memberikan beberapa jenis pola asuh yang bisa orang tua terapkan. Ada lima pola asuh yang bisa dikombinasikan dan dipakai pada kondisi tertentu. Penjelasan dari Sri Wulandari sangat mudah dipahami. Misalnya, pada bagian pola asuh ini, Sri Wulandari memberikan penjelasan dengan menyertai contoh pada setiap bahasannya serta terdapat inti sari agar ayah bunda mudah mengingatnya.

Tanggung jawab sebagai orang tua adalah tanggung jawab yang besar. Mendidik dan mengasuh anak pun bukanlah hal yang mudah. Ada banyak kesulitan yang dihadapi orang tua. Kesulitan pengasuhan anak ini akibat dari hambatan-hambatan yang dialami oleh orang tua, anak, maupun faktor eksternal lain. Bagian ini dibahas tersendiri dengan lengkap oleh Sri Wulandari pada bab “Sulitnya Mengasuh Anak, Penggugur Dosa Orang Tua”. Bab yang mengajarkan kita semua bahwa lelah dan letihnya mendidik dan mengasuh anak akan dibayar dengan pengguguran dosa-dosa orang tua.

 

Hal Dasar yang Harus Diperhatikan Orang Tua 

Akan terasa kurang jika kita belajar sesuatu tetapi tidak mengetahui dan memahami fondasinya. Fondasi inilah yang akan mengokohkan ilmu lain yang juga sebelumnya telah dipaparkan dalam tulisan ini. Fondasi yang dimaksud adalah interaksi dan komunikasi, sesuai dengan sub judul dari buku ini yaitu “Sebuah Seni Berinteraksi dan Berkomunikasi dengan Anak”. Apa keterkaitan dari dua hal tersebut? Dan bagaimana orang tua harus memahami keduanya? Saya akan membocorkan sedikit jawabannya. 

Dalam membangun hubungan harmonis dengan anak dan terhindar dari penyebutan orang tua yang menyebalkan maka dibutuhkan interaksi mendalam dan respons yang positif antara orang tua dan anak. Menjalin interaksi dengan anak agar lebih bermakna adalah dengan komunikasi efektif. Lagi lagi terkait dengan komunikasi, karena komunikasi adalah kunci utama dalam kehidupan berumah tangga. Bagaimana caranya menjalin interaksi yang mendalam dan melakukan komunikasi efektif dengan anak? Ayah dan bunda bisa membacanya di buku karya Sri Wulandari ini. 

Masih ada banyak hal lainnya yang mempengaruhi tumbuh kembang anak dan tidak ketinggalan juga dibahas dalam buku ini. Misalnya, dalam proses interaksi antara anggota keluarga dibiasakan dengan menunjukkan sikap dan ungkapan yang sopan dan santun, di antaranya yaitu ungkapan salam, maaf, permisi, terima kasih dan tolong. Buku yang patut untuk dibaca oleh para orang tua atau yang sedang belajar menjadi orang dan anak yang baik.

 

Hal yang Seharusnya Tidak Dilakukan Kepada Anak

Setelah mengulas hal-hal yang harus diperhatikan oleh orang tua, tentunya buku ini juga membahas hal yang seharusnya tidak dilakukan kepada anak. Ada beberapa bab yang bisa ayah bunda baca dan pelajari bersama, di antaranya yaitu tentang memerintah, menyalahkan, membanding-bandingkan, mengancam, dan bahkan bohong kepada anak. Orang dewasa atau orang tua tentunya berada pada posisi yang paling enak untuk melakukan semua hal itu padahal cara demikian adalah cara yang kurang tepat dalam mendidik dan mengasuh anak. 

Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa disadari orang tua juga telah meremehkan emosi yang terjadi pada anak. Peran orang tua untuk membantu mengenal emosi anak tidak bisa tercapai karena respons orang tua yang mengabaikan perasaan anak. Anak nangis bukannya divalidasi tetapi malah dibanding-bandingkan dengan yang lain karena dianggap tidak memiliki jiwa kuat. Belum lagi julukan-julukan yang tidak pantas diberikan kepada anak.

Duh, jangan lakukan itu ke anak ya ayah bunda. Dengan membaca buku ini, ayah bunda akan belajar banyak dan bisa lebih mengerti perasaan anak.   

Orang tua sama halnya dengan anak, mereka sepanjang perjalanan menjadi orang tua juga akan terus belajar. Dan saat ini, dibutuhkan orang tua yang selalu mau belajar untuk meningkatkan kemampuan dirinya dalam pengasuhan anak. Hal-hal yang kurang tepat dalam mendidik anak yang parahnya hal tersebut dianggap “biasa”, sudah bukan waktunya lagi untuk terus dilakukan oleh orang tua yang baik. Lewat buku ini Sri Wulandari ingin mengajak kita semua untuk menjadi orang tua yang lebih baik dari waktu ke waktu. Buku yang akan menuntun kita semua melahirkan anak-anak hebat karena memiliki orang tua yang tidak kalah hebat.

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.