Pernahkah kamu menemukan dalam suatu buku atau karya tulis yang dalam tulisannya ada tanda pangkatnya, padahal bukan buku Matematika? Dalam penulisan sebuah karya ilmiah, seperti makalah, skripsi, tesis, ataupun buku-buku ilmiah lainnya, pasti kita sering menemukan adanya tanda pangkat tersebut.

Sumber: Arsip Pribadi

Ya, tanda pangkat itu akan mengarahkanmu untuk melihat ke bagian bawah buku. itulah yang dinamakan catatan kaki. Mengapa dikatakan catatan kaki? Apakah ada catatan di kaki penulis? Apa fungsi menggunakan catatan kaki? Lalu bagaimana cara menggunakan catatan kaku yang benar? Simak penjelasannya berikut ini!

Pengertian

Catatan kaki adalah keterangan yang ditambahkan dan diletakkan pada kaki halaman (di bawah). Catatan kaki ini biasanya dicetak dengan huruf yang lebih kecil daripada huruf di naskahnya. Selain untuk menjelaskan sumber asal sebuah kutipan (baik kutipan langsung maupun tidak langsung), catatan kaki juga sering digunakan untuk menjelaskan teks atau istilah khusus yang perlu penjelasan lebih panjang.

Fungsi penulisan catatan kaki

Ada beberapa fungsi dari penggunaan catatan kaki pada naskah, yaitu sebagai berikut.

  1. Menunjukkan referensi atau sumber rujukan dari kutipan penyusunan daftar bacaan pada naskah.
  2. Memberi penguatan evidensi (pembuktian) untuk sebuah pernyataan tentang suatu yang harus dikuatkan dengan memberi penjelasan yang lebih mendalam.
  3. Memberi pengertian untuk beberapa istilah atau ungkapan yang memerlukan penjelasan lebih.
  4. Menunjukkan sumber lain yang membicarakan hal yang sama

Dari bebera fungsi di atas, kamu mungkin berpikir, kenapa gak pakai daftar rujukan saja? kenapa gak pakai glosarium saja? inilah salah satu fungsi lain penggunaan catatan kaki, yaitu agar pembaca tidak perlu repot membolak-balik dari halaman depan atau tengah menuju ke halaman paling belakang untuk melihat referensi ataupun pengertian dari suatu istilah yang sedang dibacanya. Cukup dengan membacanya di bagian bawah buku dengan bantuan tanda pangkat tadi.

Ketentuan penulisan

Berikut beberapa ketentuan yang menyertai proses penulisan catatan kaki yang perlu dipahami dan kemudian diterapkan.

  1. Ukuran huruf

Ukuran huruf untuk catatan kaiki menggunakan ukuran 10, yang terpenting adalah ukurannya lebih kecil dari ukuran huruf dalam naskah.

  1. Tanda catatan kaki

Penulisannya dibuat dengan memberi angkat pangkat pada suatu akhir kata. Kemudian di bagian catatan kakinya juga didahului dengan menggunakan angkat pangkat tadi, yang diikuti dengan penjelasan.

Sumber: indonesiaterpercaya.net

  1. Unsur dalam catatan kaki sebagai rujukan

Untuk catatan kaki sebagai referensi atau sumber rujukan penulisannya harus memiliki unsur sebagai berikut.

  • Nama penulis/pengarang, penerjemah, atau editor yang ditulis lengkap, tanpa dibalik dan gelar
  • Judul buku sumber yang dicetak miring dan ditulis lengkap
  • Tahun terbitnya buku
  • Nomor halaman. Dalam hal ini, penulisannya biasanya disingkat dengan “hal.” atau “hlm.” kemudian diikuti dengan nomor halaman yang dikutip.
  1. Penggunaan singkatan

Ada juga catatan kaki yang berupa singkatan, di mana singkatan itu tentu ada maksud dan tujuannya. Singkatan tersebut misalnya kata ibid yang berarti catatan kaki tersebut sudah pernah dikutip sebelumnya. Contoh: Ibid., hal. 16

Sebagai penulis yang andal, kamu tidak hanya harus memahami bagaimana menuangkan ide di kepala menjadi sebuah tulisan, tetapi juga harus paham berbagai ketentuan-dalam menulis, termasuk dalam hal penulisan catatan kaki.

 

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0

No products in the cart.