Apakah Sobat pernah membaca kisah seseorang yang melakukan konservasi terhadap kunang-kunang? Iya, kunang-kunang! Sobat tidak salah membaca. Kunang-kunang sebagaimana yang Sobat tahu merupakan serangga dengan kemampuan mengeluarkan cahaya yang jelas terlihat saat malam hari.

Kisah pelestarian kunang-kunang ini akan Sobat temukan dalam buku autobiografi karya Wayan Wardika dengan judul “Bring Back the Light”. Buku yang sangat menarik. Saat membaca judul bukunya saja sudah membuat kita penasaran dan bertanya-tanya “Apa sebenarnya hubungan antara kunang-kunang dengan sosok Wayan Wardika?”. Mengapa harus kunang-kunang? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang bermunculan di kepala. Oleh karena itu, mari kita ikuti perjalanan Wayan Wardika yang dituntun oleh cahaya kunang-kunang.

 

Perjalanan Menemukan Cahaya

Buku autobiografi dimaknai dengan buku riwayat hidup yang ditulis sendiri oleh tokoh di buku tersebut. Begitu juga dengan buku autobiografi karya Wayan Wardika ini. Namun, ada hal yang berbeda dari buku autobiografi yang satu ini karena tidak hanya mengisahkan perjalanan hidup Wayan Wardika sejak masih kecil hingga dewasa, tetapi juga dilengkapi dengan perjalanan kehidupan makhluk kecil yang indah yaitu kunang-kunang. Pengalaman Wayan Wardika bersama kunang-kunang sejak masa kecil ternyata mampu menyelamatkan dunia. Mengapa demikian?

Sebelum membahas lebih jauh isi dari buku “Bring Back the Light”, sebenarnya siapa sih sosok Wayan Wardika itu? Wayan Wardika lahir di Desa Taro, Bali. Ia menghabiskan masa kecilnya di desa tersebut hingga tumbuh remaja. Wayan Wardika harus meninggalkan Desa Taro demi menempuh pendidikan sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama atau SMP. Rentatan cerita demi cerita dari perjalanan hidup Wayan Wardika disampaikan dengan jelas dalam buku ini. Penggambaran setiap detail cerita membuat pembaca juga ikut berpetualang dalam kehidupan Wayan Wardika.

Perjalanan Wayan Wardika dalam menemukan cahaya terbagi menjadi 7 bab. Bermula dari kelahiran Wayan Wardika yang menjadi cahaya bagi keluarganya, kini ia menjadi cahaya untuk orang lain. Hal tersebut terjadi karena ia mendedikasikan hidupnya untuk menemukan kembali apa yang mulai hilang dan yang keberadaannya tidak disadari oleh orang lain yaitu cahaya kunang-kunang.

 

Lebih Dekat dengan Kunang-Kunang

Bagi sebagian orang kunang-kunang adalah hewan kecil yang tak ada artinya. Namun, tidak bagi Wayan Wardika. Kunang-kunang beserta cahayanya memiliki makna tersendiri baginya, tak terbatas pada aspek biologis sebagai sebuah makhluk hidup dan kebermanfaatannya untuk ekosistem tetapi juga sebagai aspek spiritual untuk terus bertumbuh dan terhubung dengan penciptanya.

Cahaya kunang-kunang semakin lama samakin sulit untuk kita temui. Apalagi jika kita hidup di tengah-tengah perkotaan, bahkan sudah tidak terlihat lagi pancaran cahaya kunang-kunang di malam hari. Ada perasaan sedih tentunya ketika melihat fakta ini. Padahal cahaya kunang-kunang sebagai bioindikator dari alam.

Faktor yang menjadikan cahaya kunang-kunang redup sangat berkaitan erat dengan perilaku manusia yang acuh terhadap alam. Hadirnya buku ini menyadarkan kita akan pentingnya cahaya kunang-kunang untuk tetap menyala di bumi dan jiwa manusia.

Buku ini membawa kita untuk mengenal lebih dekat lagi dengan makhluk kecil yang menyinari bumi. Bahkan kita juga diajak untuk mengamati setiap fase kehidupan kunang-kunang secara ilmiah. Tak kalah pentingnya juga pada proses pembuatan cahaya yang menjadi ciri khas kunang-kunang. Fase kunang-kunang ini tak pernah dibahas di buku-buku pelajaran saat kita sekolah dahulu sehingga saat membaca buku ini kita dibuat takjub. Penamaan-penamaan ilmiah yang digunakan di beberapa bagian sangatlah mudah untuk dipahami karena selalu disertai dengan makna secara harfiahnya. Buku yang juga layak untuk dijadikan sebagai buku referensi baik pada pembelajaran formal maupun non formal.

 

Rumah Konservasi Kunang-Kunang

Perjalanan untuk mengembalikan cahaya kunang-kunang membuahkan hasil dengan berdirinya Rumah Konservasi Kunang-Kunang di Desa Taro, Bali. Terdengar asing bagi kita, apa sih sebenarnya Rumah Konservasi Kunang-Kunang itu? Melalui buku ini kita juga diperkenalkan Rumah Konservasi Kunang-Kunang yang didirikan oleh Wayan Wardika. Rumah konservasi ini adalah langkah nyata Wayan Wardika untuk membawa kembali cahaya kunang-kunang yang semakin memudar.

Aktivitas yang dilakukan di Rumah Konservasi Kunang-Kunang dijelaskan satu persatu dalam buku ini. Melestarikan kunang-kunang bukan satu-satunya kegiatan yang dilakukan. Wayan Wardika beserta tim Rumah Konservasi Kunang-Kunang menjadikan konservasi sebagai sarana di berbagai bidang, mulai dari ekosistem, edukasi, pariwisata hingga sebagai pengembalian kemuliaan leluhur. Rumah Konservasi Kunang-Kunang akan terus melanjutkan perjuangan, melakukan penelitian, inovasi, serta eksperimen untuk kunang-kunang dan alam.

Mendirikan Rumah Konservasi Kunang-Kunang tentu bukanlah hal yang mudah dan murah. Tapi, Wayan Wardika memiliki keyakinan bahwa betapa pun beratnya tantangan yang kita hadapi untuk satu tujuan yang mulia pasti akan ada solusinya. Lahirnya setiap cahaya kunang-kunang dari rumah konservasi ini akan menjadi catatan yang tidak akan pernah dilupakan oleh sejarah. Bring Back the Light dan Rumah Konservasi Kunang-Kunang akan terkenang sepanjang masa.

 

Cahaya Penuntun Kehidupan

Memahami keterkaitan kunang-kunang secara spiritual dan budaya menjadi bagian yang tak kalah menarik dari buku ini. Wayan Wardika menyampaikan bahwa cahaya kunang-kunang merupakan simbol dari bahasa Tuhan. Seperti kunang-kunang, kita semua adalah cahaya sebagai sumber kasih Sang Pencipta yang menyala dalam diri kita.

Jika pada kunang-kunang cahayanya sudah berpendar sejak kunang-kunang berada pada fase telur, larva, pupa, hingga bermetamorfosis sempurna menjadi kunang-kunang dewasa, begitu juga dengan manusia. Setiap proses dari hidup yang kita lalui dituntun oleh cahaya. Inilah yang menjadi alasan pentingnya menumbuhkan lentara dalam diri agar tidak pernah redup.

Sebagai penutup dalam buku ini, Wayan Wardika mengorelasikan epos Mahabarata dengan cahaya kunang-kunang. Hal tersebut semakin memperkuat perenungan kita sebagai manusia terhadap cahaya Ilahi yang bersemayam dalam hati. Epos Mahabarata menjadi pilihan yang sangat tepat untuk menutup buku ini. Senang sekali rasanya bisa bertemu dengan buku yang luar biasa ini.

Perjalanan dan perjuangan panjang yang telah dilalui oleh Wayan Wardika memberikan banyak pelajaran untuk kita semua. Buku ini menjadi bukti nyata perjalanan itu. Saat kita kehilangan semangat untuk memperjuangkan hidup atau mungkin mulai kehilangan cahaya sebagai penuntun kehidupan, kita bisa beristirahat sejenak kemudian membaca buku ini. Bring Back the Light karya Wayan Wardika akan membantu menuntun kita karena isi dari buku ini bagaikan cahaya yang hadir di tengah kegelapan. Sebagaimana cahaya kunang-kunang yang membantu kita untuk sampai dengan selamat ke tempat tujuan.

Ucapan terima kasih rasanya tak cukup untuk disampaikan kepada Wayan Wardika atas setiap misi mulia yang ia bawa. Wayan Wardika tentu tak pernah mengharapkan balasan apa pun dari kita. Yang bisa kita lakukan adalah memahami makna cahaya kunang-kunang melalui buku ini dan ikut berupaya untuk menjaga cahaya kunang-kunang agar tetap bersinar.

“Jadikan cahaya kunang-kunang sebagai pengingat agar senantiasa memelihara sinar Ilahi dalam diri kita sehingga kita lebih mudah menemukan jalan pulang menuju sumber cahaya”

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.