Membaca judulnya saja, kita sudah disodorkan dengan padanan kata yang menohok “Toxic Parenting”. Memangnya ada parenting yang toxic? Bagaimana bentuknya? Apa jangan-jangan sebagai anak kita pernah mendapatkan perlakuan toxic dari lingkungan keluarga? Atau sebagai orang tua, secara tidak sadar kita sudah menerapkan bentuknya?

Lewat buku Say No Toxic Parenting, penulis mencoba mengelaborasi praktik-praktik dalam lingkup keluarga yang mengarah pada perbuatan toxic. Menariknya bila dikaji lebih dalam, ternyata perilaku-perilaku kecil, misalnya membandingkan satu anak dengan anak yang lain, juga tergolong dalam praktik toxic itu sendiri. Bila dilakukan secara terus-menerus, maka akan menciptakan siklus berkepanjangan yang tentunya berdampak pada gangguan mental dari setiap anggota keluarga.

 

Dari Mana Toxic Parenting Bermula?

Say No to Toxic Parenting ditulis oleh Ismiyati Yuliatun, seorang psikolog yang sejak tahun 2004 terjun langsung ke dalam bidang klinis, kesehatan mental, dan keluarga. Buku setebal 187 halaman ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis dalam mendampingi orang-orang yang mengidap gangguan mental.

Sebagaimana yang tertuang pada awal pembahasan, tiga gangguan kesehatan mental terbesar yang penulis temukan di antaranya adalah depresi, anxiety (kecemasan), dan bipolar. Ketiganya dapat didiagnosis dari berbagai gejala atau simtom yang muncul pada diri seseorang dengan gangguan mental tersebut. Misalnya merasa sedih dan kecewa yang berlebihan, jantung berdebar berkepanjangan, hingga mengonsumsi obat berlebihan sebagai manifestasi dari ide bunuh diri.

Setelah dilakukan konsultasi yang mendalam, penulis menemukan bahwa terjadinya gangguan-gangguan kesehatan mental tersebut ternyata datang dari peran keluarga yang punya andil paling besar. Inilah yang menjadi dasar dari adanya pola asuh yang toxic (toxic parenting). Ketika praktik toxic dilakukan oleh orang tua dengan atau tanpa sengaja dan dalam waktu berkepanjangan, berdampak pada kesehatan mental sang anak.

Dari mana toxic parenting muncul? Karena pola asuh ini dilakukan oleh orang tua, maka toxic parenting muncul dari pola asuh sebelum-sebelumnya yang orang tua tersebut.

 

Jangan-Jangan Kita Pernah Melakukannya

Lewat Say No to Toxic Parenting, penulis mengajak pembaca untuk menemukan inspirasi tentang kebiasaan-kebiasaan yang sebenarnya merupakan bagian dari pola asuh toxic. Sebab bisa jadi, kita sebagai orang tua, jangan-jangan pernah melakukannya tanpa disadari, lalu menormalisasi perbuatan-perbuatan yang mengarah pada toxic parenting tersebut.

Terlebih di era perkembangan teknologi seperti sekarang, informasi dapat diperoleh dengan mudah. Terlepas dari keakuratan dan kebenaran informasi yang disajikan tersebut, membuat kita mudah memercayainya. Ditambah lagi, intervensi dan provokasi secara masif dari berbagai sumber terkait pola asuh yang benar, menambah kepercayaan kita untuk menerapkan satu pola asuh yang tepat.

Bentuk toxic parenting yang umumnya terjadi dalam lingkup keluarga misalnya orang tua yang terlalu protektif terhadap anak. Memang, sebagaimana yang turut disampaikan penulis bahwa orang tua punya kewajiban besar dalam menjaga dan memilihkan lingkungan yang baik kepada anak. Ketika anak tumbuh di lingkungan yang aman bagi mereka, tentu anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Namun akibat terlalu menjamin keamanan bagi anak, dampaknya malah buruk bagi anak. Tidak memberikan peluang belajar mandiri kepada anak, mengekang, dan mengawasi berlebih adalah bentuk dari protektif yang ekstrem. Dampaknya bukan menjadikan anak dengan pribadi baik, sebaliknya akan melemahkan anak. Anak mudah menyerah ketika menghadapi tekanan atau situasi yang sulit dan terlalu bergantung pada orang tua.

Adakalanya dalam hal-hal tertentu dibutuhkan kelonggaran atau kompromi. Hal tersebut juga akan menjadi sebuah pembelajaran bagi anak agar memahami bagaimana caranya dia harus menyesuaikan diri dengan baik di lingkungannya.

Dengan latar belakang tersebut, penulis mengharapkan para orang tua atau calon orang tua dapat memperbaiki atau bahkan mencegah terjadinya gangguan kesehatan mental akibat dari toxic parenting.

 

Bullying yang Terjadi di Dalam Rumah

Pembahasan yang tak kalah menarik pada Say No to Toxic Parenting datang dari Bab 12, di mana penulis mengungkap fenomena bullying yang terjadi di dalam rumah. Bila selama ini sebagai orang awam hanya mengenal fenomena bullying dalam lingkup sekolah, nyatanya kasus satu ini bisa terjadi dalam lingkup dalam rumah. Yang artinya, para pelakunya datang dari anggota keluarga, termasuk orang tua.

Bullying atau dapat diartikan sebagai perundungan, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna . Bullying yang selama ini dikenal terjadi dalam lingkungan sekolah, misalnya adalah mengolok-olok teman, menyebut teman dengan nama yang tidak baik, memberikan hukuman fisik yang tidak memiliki alasan jelas, dan masih banyak lagi. Kasus bullying ini sampai sekarang masih menjadi perhatian khusus sebab terbukti banyak praktiknya di lingkungan sekolah.

Bagaimana bentuk bullying dalam lingkungan rumah?

Ismiyati memberikan gambaran sederhananya, seperti membanding-bandingkan satu anak dengan anak yang lain. Bila anak kedua dinilai kurang mampu memahami pelajaran matematika, kemudian orang tua membandingkannya dengan anak pertama yang jago dalam bidang serupa, maka inilah bentuk bullying itu sendiri. Misalnya lagi, kebiasaan membandingkan perbedaan warna kulit antara adik dan kakak juga menjadi contoh dari praktik bullying di lingkungan rumah.

Bila dibiarkan terus-menerus, dampaknya kembali merujuk pada kesehatan mental sang anak. Sebagaimana penemuan penulis ketika menjalankan profesinya sebagai psikolog.

 

Waktunya Memutus Mata Rantai

Ibarat warisan, toxic parenting muncul karena adanya perlakuan toxic dari pola asuh orang tua sebelumnya. Semakin menurun “warisan” ini, maka akan menjadi siklus atau mata rantai yang terus-menerus terkait.

Bagaimana cara orang tua berinteraksi, berkomunikasi, menyikpai kesalahan, nila-nilai yang mereka ajarkan kepada anak, akan berpengaruh kepada pertumbuhan dan perkembangan anak. Orang tua menjadi role model bagi anak.

Melihat urgensi tersebut, rasanya sudah waktunya untuk memutus mata rantai toxic parenting ini demi mewujudkan keluarga bermental sehat. Mengenai caranya, Ismiyati menjelaskan upaya preventif sedini mungkin yang dapat dilakukan.

Pertama adalah dengan menyadari bahwa yang bersangkutan pernah mendapatkan pola asuh yang toxic. Dengan menyadarinya, berarti ia sudah memahami bahwa bentuk perlakuan yang sudah diterimanya adalah tidak baik dan berdampak berkepanjangan. Ketika seseorang sudah menyadari pula, ia dapat berkomitmen untuk tidak melakukan hal serupa pada anak atau lingkungan sekitarnya.

Pada akhirnya, Say No to Toxic Parenting menjadi bacaan parenting yang wajib untuk dibaca. Di dalamnya memuat penjelasan menyeluruh berkaitan toxic parenting itu sendiri, bentuk-bentuknya, hingga cara tepat untuk menjadi keluarga dengan mental yang sehat.

Sobat Litera yang ingin memperdalam ilmu berkaitan dengan parenting, terlepas sudah menjadi orang tua atau belum, wajib baca buku ini.

 

 

 

Leave a Reply

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.