Indonesia atau dahulu dikenal dengan sebutan Nusantara adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar kedua di dunia. Proses masuk dan menyebarnya Islam di Nusantara menjadi salah satu topik yang menarik untuk dibahas dalam kajian sejarah. Sejarah Islam di Nusantara masih banyak yang belum kita ketahui, apalagi karena Nusantara yang begitu luas sehingga memiliki catatan sejarah tersendiri setiap daerahnya. Belum lagi masih banyak sejarah yang belum terungkap karena kurangnya bukti-bukti di lapangan sebagai penguat akan kebenaran sejarah tersebut. 

Sejarah Islam di Nusantara adalah sebuah perjalanan panjang dan kaya. Islam diyakini telah masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 Masehi. Akibat waktu yang telah berlalu begitu lama maka tak banyak orang yang bisa mendokumentasikan dengan baik catatan sejarah ini. Namun, Fadly Ibrahim menjadi salah satu orang yang berhasil mendokumentasikan sejarah penyebaran Islam, khususnya di Pompanua. Melalui bukunya yang berjudul Serpihan Jejak Ulama Pompanua, ia menorehkan catatan baru untuk sejarah Nusantara. Bagaimana Fadly Ibrahim mengungkap dan mengumpulkan serpihan jejak ulama di Pompanua? Temukan jawabannya pada buku Serpihan Jejak Ulama Pompanua. 

 

Sejarah Pompanua dan Sulawesi Selatan 

 

Berbicara tentang Nusantara maka tidak akan lepas dari sejarah setiap daerahnya yang sangat menarik untuk diungkap. Daerah di Indonesia yang menyimpan sejarah menarik itu salah satunya adalah Sulawesi Selatan, lebih mengerucut lagi ke sebuah desa yang ada di dalamnya yaitu Pompanua. Apakah Sobat Litera baru pertama kali mendengar kata “Pompanua”? Pompanua sangatlah asing di telinga kita sehingga hadirnya buku ini seperti membuka cakrawala kita akan dunia dan isinya pada masa lampau hingga saat ini. 

Pompanua secara administratif merupakan sebuah kelurahan di Kecamatan Ajangale, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Pada bab “Pompanua dalam Kronik Lembah Walanaé-Cenrana”, Fadly Ibrahim banyak menyajikan informasi tentang Sulawesi Selatan yang sangat indah, dimulai dari pergeseran lempeng yang akhirnya membentuk Pulau Sulawesi seperti huruf “K” dan cerita para penjelajah dunia yang singgah di Sulawesi untuk beberapa saat. Fadly Ibrahim menggunakan banyak rujukan dari berbagai macam sumber sehingga kevalidannya dari apa yang ia tulis tidak diragukan lagi. 

Sejarah Pompanua dari masa ke masa tersampaikan dengan baik dalam buku ini. Abad sebelum Pompanua berpenghuni hingga menjadi kota besar tempat utama bersandarnya perahu-perahu karena Pompanua berada pada posisi yang strategis. Sejarah kehidupan sehari-hari orang Sulawesi Selatan juga turut diungkap.    

 

Pengungkapan Ulama Pompanua

 

Islam masuk ke Nusantara sudah cukup lama. Namun, hanya sedikit yang mengetahui tokoh-tokoh penyebar Islam, khususnya di Sulawesi Selatan. Banyak para akademisi yang berusaha mengumpulkan serpihan jejak dari para ulama, salah satunya Fadly Ibrahim. Waktu yang dibutuhkan oleh Fadly Ibrahim ternyata tidaklah sebentar. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mencari jejak dakwah dan keilmuan para ulama Pompanua.

Tujuan utama hadirnya buku yang ditulis oleh Fadly Ibrahim ini tentunya untuk mengungkap jejak para ulama dari Pompanua yang berdakwah pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Buku ini mengungkap tidak kurang dari 100 manuskrip yang bercerita tentang jejak ulama Pompanua. Proses terbentuknya ruang-ruang kekuasaan serta keagamaan di Pompanua dan sekitarnya sehingga mendorong lahirnya ulama Bugis tentu menjadi pembuka pengungkapan ini.

Ada banyak nama para ulama yang disebutkan dalam buku ini. Riwayat dan kisah para ulama ini didapatkan oleh Fadly Ibrahim secara langsung dari AGH. Muhammad Yusuf Surur. Beliau juga memberikan buku, foto, lukisan, manuskrip, dan sejumlah dokumen lama. Semua bukti-bukti itu juga turut ditampilkan dalam buku ini. AGH. Muhammad Yusuf adalah ulama yang tidak hanya berjasa untuk Islam di Nusantara tapi juga berjasa dalam pengumpulan jejak-jejak sejarah yang terlupakan. Siapa sebenarnya AGH. Muhammad Yusuf? Kisah selengkapnya dari AGH. Muhammad Yusuf dan para ulama Pompanua lainnya dapat ditemukan dalam buku ini. 

 

Perjalanan Dakwah Para Ulama Pompanua di Nusantara

 

Ulama Bugis banyak berkontribusi pada dakwah Islam di Nusantara. Mereka menjelajahi berbagai wilayah di Nusantara untuk menyebarkan ajaran Islam. Pengaruh mereka begitu besar bagi kehidupan masyarakat Nusantara bahkan hingga saat ini. Jejak dakwah yang mereka tinggalkan masih bisa kita jumpai dalam kehidupan sekarang, baik itu berupa tradisi keagamaan atau hal lainnya yang mencirikan ulama pada setiap masanya.  

Perjalanan dakwah di Pompanua yang telah mengalami evolusi dari waktu ke waktu dipetakan menjadi empat fase oleh Fadly Ibrahim. Fase pertama dimulai pada abad ke-19, fase kedua paruh pertama abad ke-20, fase ketiga paruh kedua abad ke-20, dan fase terakhir pada abad ke-21. Pada abad ke-21 ini tradisi intelektual dan pendidikan Islam di Pompanua mulai menjauh dari coraknya yang bermuara di abad ke-19. Hadirnya buku ini menjadi upaya Fadly Ibrahim untuk menyelamatkan kemerosotan akan pendidikan Islam dan nilai-nilainya. 

Beberapa bab dalam buku ini membahas dakwah para ulama di Nusantara, dua di antaranya ada “AGH. Abdul Rasul Memilih Denpasar” dan “Haji Husain Surur di Sumatra”. Pendahulu dari keluarga Haji Husain Surur sendiri telah sampai di Johor untuk melakukan dakwah. Artinya, para ulama ini menyebarkan Islam tidak hanya di Nusantara tetapi juga sampai ke Negara tetangga. Para ulama telah menerangi negeri ini dengan cahaya dakwah. Berkatnya Islam tumbuh subur dan hidup di hati para pemeluknya.  

 

Dari Pompanua ke Makkah

 

Salah satu bab pada buku ini berjudul “Dari Pompanua ke Makkah”. Ini adalah hal menarik untuk diulas. Apa yang ingin disampaikan oleh Fadly Ibrahim pada bab tersebut? Dahulu, perjalanan Haji ke Makkah bukan semata-mata untuk menunaikan ibadah haji seperti yang terjadi sekarang. Namun, juga bertujuan untuk mempelajari agama islam secara langsung dari tempat yang suci dan orang-orang berilmu di Haramain. Tak terkecuali para ulama Indonesia yang pergi ke Makkah dengan tujuan tersebut. 

Dalam buku ini Fadly Ibrahim menyampaikan catatan sejarah akan ulama-ulama Pompanua yang pergi ke Makkah, misalnya To Lanca sebagai orang Wajo pertama yang berangkat ke Makkah pada awal masuknya Islam di Wajo. Bukti perjalanan haji To Lanca ditemukan oleh Fadly Ibrahim dalam Lontaraq Suqquna Wajo. Di luar pulau Sulawesi, Fadly Ibrahim turut menyebutkan nama Abdul Qahhar, putra Sultan Ageng Tirtayasa (Banten), yang menjadi pangeran Jawa pertama dalam menunaikan haji. Perjalanan para ulama Indonesia ke Makkah yang dahulu ditempuh dengan waktu yang tidak sebentar dan rintangan yang berat juga diceritakan lengkap oleh Fadly Ibrahim.    

Kisah yang diungkap oleh Fadly Ibrahim dari satu bab ke bab yang lainnya sangat menakjubkan. Setelah selesai membaca buku ini, pembaca akan dibuat bertanya-tanya, bagaimana bisa Fadly Ibrahim melakukan pendokumentasian ini dengan begitu rapi, menjadi nyaman dibaca, dan tentunya kaya akan ilmu. Oleh karenanya, buku Serpihan Jejak Ulama Pompanua wajib dibaca karena buku ini merupakan karya besar akan sejarah dakwah dan penyebaran Islam di Sulawesi Selatan secara khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

 

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.