
Perjalanan ke Tanah Suci Makkah bukanlah perjalanan biasa, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang mendalam. Namun, apa jadinya jika perjalanan tersebut menjadi perjalanan terberat dalam hidup seseorang? Tokoh Aku dan Dhito dalam novel Air Mata di Langit Makkah ternyata harus merasakan perjalanan berat tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi pada kedua tokoh tersebut?
Novel Air Mata di Langit Makkah adalah novel karya Ayu Ratriani. Ia sudah memiliki kegemaran menulis sedari kecil. Pada novel ini, Ayu Ratriani menghadirkan kisah yang dapat menginspirasi para pembaca tentang keikhlasan dan menerima takdir yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Lebih jauh lagi, apa saja bahasan dan makna yang tersimpan dalam novel ini? Berikut ulasan novel Air Mata di Langit Makkah.
Perjalanan Menuju Tempat Suci

Melaksanakan ibadah umrah atau haji di Tanah Suci adalah sebuah cita-cita yang ingin dicapai oleh umat Islam sebelum akhirnya dipanggil untuk berpulang ke hadapan-Nya. Namun, tidak semua umat Islam merasa terpanggil untuk berkunjung ke Tanah Suci. Seperti yang disampaikan Ayu Ratriani, ada yang punya rezeki cukup dan badan sehat, tapi tidak ada waktu luang. Ada yang punya badan sehat dan waktu luang, tapi tidak ada rezeki. Sungguh misterius panggilan Allah ini. Lantas, bagaimana dua tokoh dalam novel ini bisa memenuhi panggilan-Nya untuk pergi ke Tanah Suci? Ikuti perjalanan keduanya dalam novel ini.
Ketika sudah sampai di Tanah Suci, setiap orang tentunya meniatkan diri hanya untuk beribadah kepada Allah Swt. Waktu yang sangat berharga tersebut akan digunakan semaksimal mungkin untuk berzikir, berdoa, dan memohon ampunan atas segala dosa-dosa yang telah diperbuat. Tokoh Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Air matanya bercucuran mengiringi setiap lantunan zikir dan lafaz doa yang terucap. Perasaan yang sama juga akan kita rasakan nantinya.
Perjalanan yang tidak mudah hingga akhirnya sampai di Madinah kemudian berlanjut ke Makkah diceritakan dengan runtut dan detail dalam novel ini. Pembaca juga seolah-olah sedang dibawa dalam setiap langkah yang ditempuh oleh kedua tokoh. Buku ini akan memberikan gambaran dan ilmu pengetahuan terkait dengan ibadah umrah yang semoga kita semua bisa segera mewujudkannya juga.
Melihat Kembali Sejarah Islam
Kota Makkah atau Madinah menyimpan kisah dan sejarah yang begitu kaya. Sejarah-sejarah ini mengundang perenungan dan pendekatan diri pada Sang Pencipta. Begitu juga dalam novel ini, penulis turut menyertakan beberapa sejarah Islam pada tempat-tempat yang mereka temui saat melakukan perjalanan umrah. Sejarah Islam yang diceritakan oleh Ayu Ratriani adalah hal menarik yang perlu diketahui oleh Sobat Litera semua sehingga kami hadirkan juga ulasannya pada bagian ini.

Sejarah sa’i merupakan salah satu sejarah Islam yang diceritakan oleh penulis. Berawal ketika Siti Hajar berusaha mencari air untuk putranya Ismail yang tengah kehausan. Dari tempat dia berada, Siti Hajar melihat sebuah bukit, yaitu Bukit Shafa. Kemudian dia bergegas mencari air menuju puncak Bukit Shafa. Dia tidak menemukan apa pun. Kemudian, dia bergegas turun ke arah Bukit Marwah, tapi tidak dia temui juga. Siti Hajar kembali lagi ke Bukit Shafa, dan kembali lagi ke Bukit Marwah. Demikian seterusnya hingga tujuh kali. Sobat Litera bisa membaca kisah selengkapnya dari Siti Hajar serta kisah-kisah lainnya pada buku Air Mata di Langit Makkah.
Biasanya, belajar sejarah akan membosankan, tapi mendengar cerita-cerita kekuasan Allah yang diturunkan kepada para Nabi serta sejarah Islam dan para sahabat Rasulullah Saw., sungguh nikmat sekali. Tentu kita semua sepakat dengan pernyataan tersebut. Apalagi Ayu Ratriani mengemasnya dengan bahasa yang sederhana sehingga pembaca mudah memahami pesan yang terkandung di dalamnya.
Keluarga adalah Harta

Novel karya Ayu Ratriani ini adalah novel dengan genre islami yang bertema keluarga. Sedari bab awal yang membahas tentang ‘Orang Rantau’, sudah terlihat akan ada banyak pembahasan mengenai hubungan keluarga pada tokoh utama. Tokoh Aku dan Dhito adalah sepasang suami istri yang hidupnya jauh dari keluarga atau merantau. Sudah hampir 15 tahun mereka rela mengorbankan perihnya kerinduan dengan keluarga, saudara, dan sahabat. Mungkin Sobat Litera juga ada yang merasakan hal yang sama dengan mereka?
Hangatnya keluarga mereka tentu karena ada banyak hal yang telah mereka pupuk dan rawat bersama-sama. Kedekatan antar keluarga pada novel ini berhasil membuat pembaca cemburu. Dipisahkan oleh jarak tidak membuat kedekatan di antara anggota keluarga itu memudar atau hilang, justru Dhito dan istrinya tetap menjaga kebahagiaan orang tua mereka dengan sering berkomunikasi via telepon atau sesekali bila ada waktu, mereka akan berkunjung ke rumah orang tuanya. Sebelum berangkat umrah, mereka juga mengunjungi Bapak dan Ibu Dhito. Namun, takdir berkata lain. Setelah pulang dari Makkah, Dhito dan istrinya tidak bisa lagi menemui Yangkung, panggilan untuk Bapak Dhito. Yangkung berpulang saat mereka melaksanakan ibadah umrah di Makkah.
Betapa berharganya keluarga yang kita miliki, pantas kalau disebut harta yang paling berharga adalah keluarga. Menuju bab terakhir pada buku ini adalah bab-bab yang mengharukan. Cerita bagaimana kedekatan di antara tokoh Aku dengan keluarga suaminya atau cerita betapa pentingnya peran keluarga dalam menjalankan hidup di dunia ini, terurai dengan sempurna.
Sebaik-baik Rencana adalah Rencana Allah

Mendapat kabar duka saat melaksanakan ibadah di Tanah Suci Makkah tentu hal yang sangat bikin hati teriris. Bukan lagi sedih, tetapi hancur. Belum lagi karena terpisah jarak yang cukup jauh sehingga membuat tokoh Aku dan Dhito tidak bisa melihat orang yang mereka sayangi untuk terakhir kalinya. Bagian ini menjadi bagian yang sangat mengharukan hingga tak terasa air mata juga ikut menetes saat membacanya.
Menerima ketetapan Allah adalah hal yang sulit. Datang atau perginya orang yang kita sayangi itu semua adalah ketetapan Allah. Semua yang ada di bumi ini terjadi atas kehendak-Nya. Oleh karena itu, berdoa menjadi kewajiban kita agar diberikan ketetapan yang terbaik. Doa dari tokoh Aku dan Dhito di Tanah Suci untuk meminta kesembuhan Bapak mereka ternyata masih belum Allah kabulkan, padahal “katanya” Tanah Suci merupakan tempat terijabahnya semua doa. Lantas, apakah mereka protes kepada Allah atas tertolaknya doa tersebut?
Penulis berpesan bahwa sesungguhnya Allah tidak mengabulkan semua permintaan hamba-Nya, tetapi Dia pasti memberikan apa yang menjadi kebutuhan hamba-Nya. Rencana Allah adalah desain terbaik untuk kita sebagai hamba-Nya. Bila kita rida dan sabar dengan ketetapan Allah, maka kita akan mendapatkan sebuah kemuliaan. Pengalaman penulis yang dituangkan dalam novel ini akan menjadi karya yang membawa keberkahan dan getaran spiritual yang tak terlupakan.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS al-Baqarah:216)
