
Bagaimana rasanya jika Sobat Litera harus mengikhlaskan seseorang yang dicintai karena semesta tak memihaknya untuk selalu bersama? Tentu berat rasanya dan ketika fase itu terjadi malam-malam akan terasa lebih panjang dari biasanya karena diliputi oleh rasa sedih. Jawaban yang sama juga dirasakan oleh seseorang yang bernama Raditya dalam novel Catatan Lara karya Sita R. Saputra.
Setelah berhasil dengan novel pertamanya yang berjudul Surat Eyangti, Sita R. Saputra hadir kembali dengan Catatan Lara. Kedua buku tersebut sekilas terlihat sama jika dilihat dari judulnya. Namun, isi cerita keduanya berbeda. Pada Catatan Lara kita akan diajak membaca surat-surat yang belum tersampaikan kepada seseorang nun jauh di sana. Seperti apa isi surat-surat tersebut? Berikut cuplikannya untuk Sobat Litera.
POV Seorang Laki-Laki

Seorang laki-laki yang bernama Raditya menjadi tokoh utama dalam novel ini. Dia adalah mahasiswa di salah satu universitas di Semarang. Raditya tinggal bersama ayah dan ibunya dan seumur hidupnya ia tidak pernah meninggalkan Semarang. Hidup Raditya sering dipenuhi oleh duka sehingga ia pernah melakukan percobaan untuk mengakhiri hidupnya. Penulis menorehkan sisi lain dari seorang laki-laki pada sosok Raditya. Sejak bagian prolog tersampaikan dengan jelas perwatakan dari tokoh utama ini.
Sering kali kita menemui tokoh utama dalam sebuah novel adalah seorang perempuan. Terutama pada novel dengan tema patah hati. Namun, Sita R. Saputra memberikan pandangan lain pada buku ke duanya ini. Buku ini berisi catatan hati seorang laki-laki yaitu Raditya saat masa kehilangan kekasihnya, Renata. Raditya dipertemukan oleh semesta dengan Renata saat ia sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Namun, semesta juga memisahkan keduanya dengan adanya jarak 12.361 km yang terbentang di antara mereka.
Pemilihan laki-laki sebagai tokoh utama menjadi daya tarik tersendiri pada novel ini. Banyak orang bertanya-tanya, apa sih yang sebenarnya laki-laki rasakan ketika mengalami patah hati? Apakah ada laki-laki yang mengalami gejala patah hati seperti perempuan? Hakikatnya sama saja, baik laki-laki maupun perempuan mereka akan merasakan perihnya sebuah luka karena kehilangan orang tersayang. Memang selama ini tak banyak laki-laki yang menunjukkan apa yang ia rasakan sehingga lewat novel inilah semua orang akan tahu bagaimana hancurnya seorang laki-laki yang sedang patah hati.
Catatan Luka dan Lara
Kehilangan orang yang kita cintai adalah sebuah kemalangan yang mendatangkan kesedihan dalam diri. Jika cinta yang diberikan sangat besar tidak menutup kemungkinan kehilangan orang terkasih akan membuat kehilangan diri sendiri. Kehidupan dan kebahagiaan kita seperti direnggut oleh kepergiannya. Itulah yang Raditya rasakan. Setelah putus dengan Renata, Raditya tidak pernah memiliki keberanian untuk mengirimkan pesan lagi. Apa yang ia rasakan dan pesan yang biasanya bisa tersampaikan itu sekarang hanya bisa ia tulis di laptopnya yang pada akhirnya sampai kepada pembaca lewat novel ini.
Novel ini berisi pesan-pesan singkat dari waktu ke waktu mulai tahun 2019 hingga tahun 2023. Layaknya menulis surat, setiap pesan yang ditulis dilengkapi dengan tanggal dan penyusunan paragrafnya juga tidak jauh berbeda, terdiri dari paragraf pembuka, isi, dan penutup. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami seperti bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk penyusunan kata demi kata tidak perlu diragukan lagi, selalu sangat indah.

Membaca novel ini seperti membaca surat yang diberikan oleh seseorang kepada kita. Bedanya adalah surat ini berisi perasaan duka bukan kabar bahagia. Luka dan lara Raditya tak hanya ia rasakan sendiri. Penulis juga membuat pembaca merasakan hal yang sama, terhanyut dalam kesedihan. Jika saat membaca buku ini Sobat Litera sedang dilanda patah hati maka Sobat Litera akan langsung memerankan tokoh utamanya. Semua orang tentu pernah merasakan patah hati sehingga Catatan Lara akan sangat relate dibaca oleh siapa pun.
Perjalanan Panjang dalam Meraih Cinta dan Cita-Cita

Cinta dan cita-cita adalah dua hal yang saling berkaitan dan sangat penting dalam hidup ini. Keduanya berjalan beriringan untuk membentuk masa depan seseorang. Cinta yang dirasakan oleh seseorang bisa membuatnya bahagia dan memberikan semangat untuk mencapai tujuan hidup atau cita-citanya. Namun, bagaimana jika salah satunya hilang, cinta misalnya? Masihkah ada semangat untuk melanjutkan tujuan hidup yang telah dipetakan? Sobat Litera akan mendapatkan jawaban akan hal tersebut dari novel Catatan Lara.
Perjalanan panjang yang dilalui oleh Raditya dalam menyembuhkan lukanya tak menjadikan cita-cita yang ingin diraih hilang. Tentu dalam perjalanannya Raditya harus mengalami jatuh bangun berkali kali. Tak mudah untuk melewati setiap harinya, tetapi bukan berarti tidak bisa. Raditya memiliki cita-cita bisa melanjutkan kuliah gelar master ke luar negeri dan tentunya agar bisa bertemu dengan mantan kekasihnya yang selalu ada di hatinya itu. Berkat usaha dan tekad yang kuat maka hal tersebut bisa ia raih.
Cinta dan cita-cita akan datang pada waktu yang tepat, seperti yang dialami oleh Raditya. Novel ini tidak hanya berisi perjalanan cinta Raditya yang begitu menyakitkan tetapi juga berisi perjalanan dalam meraih pendidikan hingga bisa tembus beasiswa di universitas ternama di luar negeri. Perjuangan yang dilakukan oleh Raditya memberikan pelajaran besar untuk kita semua. Ia belajar dan berjuang mati-matian. Baik cinta ataupun cita-cita keduanya harus diperjuangkan.
Ikhlas Akan Takdir Tuhan

Ikhlas, satu kata yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit untuk diterapkan. Novel ini menjadi gambaran bagaimana proses ikhlas yang ditempuh oleh seorang manusia. Ribuan kata “ikhlas” yang diucap tidak akan ada artinya apabila dalam hati kita sebenarnya masih belum ikhlas, belum bisa merelakan apa yang telah terjadi. Ikhlas bisa tercapai atau tidak bergantung pada usaha kita. Raditya dalam novel ini hingga dibantu oleh psikiater agar bisa ikhlas dalam menerima takdir Tuhan. Ikhlas dalam buku ini tidak hanya karena kehilangan seseorang yang sangat dicintai tapi lebih dari pada itu yaitu ikhlas untuk semua takdir Tuhan.
Saat kita ikhlas dan melepaskan hal yang menyakitkan maka akan digantikan dengan hal yang lebih indah lagi. Jika setelah proses ikhlas itu ternyata takdir menyatukannya kembali itu juga hadiah terindah dari Tuhan. Yang terpenting adalah kita terus berusaha untuk memperbaiki diri serta menata hati dan hidup agar selalu terhubung dengan-Nya. Ikhlas adalah salah satu dari banyaknya pembelajaran yang dapat diambil dari novel ini. Oleh karena itu, meskipun sudah selesai membaca buku Catatan Lara, saya tetap ingin membacanya lagi hingga berkali-kali.
Terakhir, Sita R. Saputra berpesan bahwa kita harus menghargai momen-momen di mana kita bersama seseorang karena kita tidak pernah tahu berapa lama Tuhan memberi waktu bagi kita untuk bersama dengan orang tersebut. Buku ini akan menjadi penyemangat bagi kita yang sedang terluka dan teman berjuang untuk sembuh serta meraih semua mimpi-mimpi yang pernah terpatri.
