Pernahkah kamu membaca sebuah buku dan menemukan ada beberapa kata atau kalimat yang tercetak miring di dalamnya? 99,9% pasti kamu pernah menemukannya! Hmm, kira-kira kenapa, ya, editor buku melakukan itu? Apakah ada alasan tertentu atau hanya sekadar dimiringkan saja? Yuk, kita cari tahu alasannya!

Sumber: theasianparent.com

Kalau kita telusuri dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, ada tiga aturan penggunaan huruf miring. Apa saja? Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk daftar pustaka. Huruf miring juga dipakai untuk menegaskan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat. Selain itu, huruf miring juga dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah atau asing. Ingin tahu penjelasan lebih lengkapnya? Yuk, kita simak ulasan di bawah ini!

Menuliskan Judul Buku atau Nama Majalah dan Surat Kabar

Ternyata, judul buku yang dikutip dalam tulisan harus dicetak miring, lho! Tak mau kalah, penulisan nama majalah dan surat kabar pun demikian. Ini dia contohnya.

  • Perbedaan mengenai guru kolonial dan guru milenial termuat secara lengkap dalam buku Guru Kolonial VS Siswa Milenial.
  • Informasi mengenai penerbit buku murah di Jawa Timur termuat pada surat kabar Jawa Pos hari ini.
  • Majalah Gadis adalah majalah yang selalu menyajikan rubrik menarik.
Menegaskan Kata Atau Kelompok Kata

Tahukah kamu kalau tidak hanya hubungan saja yang harus diberi penegasan? Sebuah kata atau kelompok kata dalam buku juga bisa diberi penegasan dengan cara dicetak miring, lho! Ini karena penulis atau editor buku ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa ini lho poin yang ditegaskan atau dengan kata lain untuk menunjukkan suatu penekanan dalam sebuah kalimat. Apa sih contohnya?

  • Pembahasan mengenai ikan budikdamber tidak lagi dibahas pada bagian ini.
  • Buatlah puisi dengan tema kemerdekaan Indonesia!
Menuliskan Kata atau Ungkapan dalam Bahasa Daerah atau Asing

Tak jarang, kamu juga pasti menemukan sebuah kata atau ungkapan dalam bahasa daerah maupun bahasa asing dari buku yang kamu baca, bukan? Ungkapan bahasa daerah ini, misalnya ungkapan yang berasal dari bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan bahasa daerah lainnya. Sementara ungkapan bahasa asing, misalnya ungkapan yang berasal dari bahasa Inggris, bahasa Arab (istilah islami), dan bahasa asing lainnya. Semua ungkapan yang berasal dari bahasa daerah dan bahasa asing tersebut tentunya tercetak miring. Berikut adalah contohnya.

  • Kartini telah memperjuangkan peran perempuan supaya tidak sekadar menjadi kanca wingking (bahasa Jawa).
  • Politik devide et impera digunakan oleh Belanda untuk menguasai Indonesia.

Nah, itulah beberapa alasan mengapa kamu sering kali menemukan penggunaan kata atau kalimat yang tercetak miring dalam sebuah buku atau tulisan. Jadi, dari sini kita tahu kalau seorang editor buku tentu tidak sembarangan dalam memiringkan sebuah kata karena ada alasan di baliknya. Kamu juga bisa menerapkan pengetahuan ini ketika hendak menulis buku, lho!

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0

No products in the cart.