Orang tua merupakan pondasi pertama anak dan memiliki peran yag sangat besar. Masing-masing orang tua memiliki penerapan pola asuh yang sangat berpengaruh kepada anak. Pola asuh merupakan gambaran sikap tanggung jawab orang tua dalam berinteraksi kepada anak untuk memenuhi kebutuhan psikologis, fisik, dan mengajarkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Melalui interaksi inilah kepribadian seorang anak terbentuk. Mussen dalam Lestari dkk. (2009) mengatakan bahwa pola asuh adalah cara yang digunakan orang tua dalam mencoba berbagai strategi untuk mendorong anak mencapai tujuan yang diinginkan, cara orang tua mendidik anaknya inilah yang akan memengaruhi terhadap kepribadian seorang anak.

Pola asuh orang tua dibagi menjadi empat tipe yaitu  sebagai berikut.

  1. Tipe autoritatif

Tipe orang tua yang memiliki tingkat pengendalian yang tinggi dan mengharuskan anak bertindak pada tingkat intelektual dan sosial yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak. Walaupun memiliki aturan yang ketat, orang tua senantiasa membimbing dan memberikan penjelasan terhadap anak sehingga terjadilah komunikasi dua arah.

  1. Tipe otoriter

Tipe orang tua yang memiliki kekuasaan penuh terhadap anak. Bagi orang tua tipe ini, anak harus patuh terhadap aturan-aturan yang telah dibuat, tetapi anak tidak dibimbing dan tidak diberi kejelasan ataupun pengertian.

  1. Tipe penyabar

Tipe orang tua yang tidak banyak menuntut dan responsif. Mereka cenderung menerima perilaku anak dan menuruti keinginannya.

  1. Tipe penelantar

Tipe orang tua yang cuek bebek. Orang tua yang terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri dan kurang peduli dengan aktivitas anaknya sehingga jarang berkomunikasi dan tidak memedulikan pendapat anak.

Dari keempat tipe pola asuh orang tua tersebut tentunya melahirkan kepribadian anak yang bermacam-macam. Untuk memahaminya lebih dalam, tentunya perlu adanya observasi dan belajar ilmu-ilmu psikologi lebih banyak. Namun, kita dapat belajar dari sebuah buku yang ceritanya menggambarkan salah satu tipe pola asuh dari keempat pola tadi. Buku ini berjudul Bang Lubis karya Yuki Ita Anggraeni.

Sumber: Arsip Pribadi

Dalam buku Bang Lubis dapat dilihat bagaimana pola asuh orang tua memengaruhi kepribadian seorang anak dan belajar bagaimana menjadi kepribadian yang lebih baik. Bang Lubis dalam perjalanan hidupnya dididik oleh orang tua tipe otoriter. Berdasarkan penelitian Ernawati dkk., tipe orang tua otoriter akan membuat anak menjadi pasif, penakut, sulit berkonsentrasi, gugup, dan suka membangkang.

Tokoh Bang Lubis yang diceritakan dalam buku ini bisa dikatakan anak yang penurut. Penurut yang menyimpan banyak luka dan dendam di dalam hatinya. Ia menganggap hidup di dalam rumah bak di dalam penjara. Ia pun merencanakan untuk bisa keluar dari rumah dengan cara kuliah di luar pulau.

Keinginannya untuk kuliah berhasil. Namun, di masa-masa kuliah itulah cerita pergolakan batinnya dimulai. Ia mulai bebas melakukan apa yang dimau sehingga di awal-awal kuliahnya menjadi berantakan. Bentuk pembangkangan dirinya terhadap pola asuh yang diterapkan papanya terjadi.

Waktu terus berjalan, betapa kacaunya ia untuk melampiaskan luka dari pengasuhan papanya. Hingga akhirnya ia mulai menyadari untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Ia sadar bahwa apa yang telah diperoleh dari didikan papanya, perlu diikhlaskan dan tidak perlu diteruskan. Toh, tanpa didikan itu ia tidak akan sekuat sekarang.

Setelah menikah dan menjadi orang tua, Bang Lubis kian menunjukkan perubahan positif terhadap dirinya. Semakin banyak ilmu yang dipelajari dan berdiskusi dengan teman-temannya yang berprofesi psikolog, luka-luka masa kecilnya pun sedikit demi sedikit pulih. Meskipun memorinya tetap menancap di kepala, tetapi ia merasa lebih ikhlas menerimanya.

Bang Lubis ingin menjadi orang tua dan suami yang dibanggakan dengan keluarganya. Ia berhasil mengolah luka pengasuhan masa kecilnya menjadi sebuah pembelajaran untuk menjadi orang tua yang lebih baik. Membaca cerita Bang Lubis juga menyadarkan pembaca bahwa karakter manusia bisa diubah, asal dia mau berubah dan bertekad menjadi lebih baik.

Bang Lubis secara tersirat telah membagikan tips untuk membuat diri menjadi lebih baik. Pertama, permasalahan yang menghampiri harus dihadapi dengan berani. Namun, sebelum memutuskan sebuah pilihan, ada baiknya untuk memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri.

Setelah itu, berusaha dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Jangan takut untuk keluar dari zona nyaman dan ambil setiap kesempatan yang ada. Kuatkan iman dengan menentukan arah tujuan selanjutnya. Yang terakhir, apresiasi dan hargai orang-orang yang berada di sekitar.

Tidak ada alasan manusia tetap ada di titik terburuknya. Bang Lubis merupakan salah bukti bahwa pola asuh orang tua yang sangat memengaruhi kepribadian dan ia telah berhasil memutuskan rantai pola asuh yang tidak disukainya.

Dari Bang Lubis pula kita belajar sebuah penerimaan dan pilihan. Mau meneruskan pola asuh orang tua atau membuat pola asuh sendiri. Yang jelas, jangan lupa menjadi orang tua yang asyik karena anak tidak bisa memilih orang tuanya seperti apa. Akan tetapi, orang tua bisa berupaya untuk menjadi sosok yang diteladani.

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.