Bulan Maret adalah salah satu bulan yang bersejarah bagi dunia sastra. Pasalnya, pada Konferensi Umum ke-30 di Paris tahun 1999, UNESCO menetapkan tanggal 21 Maret sebagai Hari Puisi Sedunia. Ini karena puisi dinilai dapat memantik semangat berekspresi dan kreativitas melalui bahasa.

Tahun ke-23 diperingatinya Hari Puisi Sedunia kemarin masih harus bertepatan dengan pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Di era pandemi Covid-19 saat ini, banyak sastrawan bahkan anak-anak dari seluruh dunia yang menciptakan karya-karya berkaitan dengan pandemi, sebagai bentuk refleksi dan ungkapan mereka mengenai kondisi yang sedang berlangsung.

 

Puisi tentang Pandemi

Di Rumah Sakit

Kalender mengucapkan

selamat tidur kepada mata ngantuk

yang masih menyala.

 

Jam dinding mengucapkan

selamat tidur kepada dokter

yang masih terjaga.

 

Obat tidur mengucapkan

selamat tidur

Kepada pasien yang masih berdoa.

 

KTP mengucapkan

selamat tidur kepada calon jenazah

yang masih memikirkan besok akan dikuburkan di mana.

 

Puisi di atas merupakan puisi tulisan Joko Pinurbo, salah satu sastrawan Indonesia, yang dilahirkannya pada masa pandemi. Dalam puisinya yang berjudul Di Rumah Sakit tersebut, Joko Pinurbo mengisyaratkan situasi yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia saat ini. Joko Pinurbo juga mengutarakan ketakutan-ketakutan yang banyak menghantui masyarakat Indonesia, tak terkecuali dirinya yang khawatir suatu saat jenazahnya ditolak karena penuhnya rumah sakit dan tempat pekuburan.

Masih banyak puisi-puisi bertema pandemi yang ditulis oleh para penyair, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari negara lain. Puisi-puisi ini bisa menjadi sebuah “nyawa” dan pemahaman baru bagi orang-orang yang hidup di tengah-tengah pandemi saat ini.

Sumber: sastrawacana.id

Penyemangat untuk Terus Berjuang

Tidak bisa dihindari, situasi pandemi memang banyak membuat beberapa orang merasa terpuruk. Di beberapa negara, anak-anak diajak untuk ikut berpartisipasi membangkitkan semangat orang lain melalui puisi. Salah satunya adalah puisi berjudul “Stand Together” yang ditulis oleh seorang anak bernama Marcie. Dengan bahasa yang sederhana khas anak kecil, puisinya menyatakan bahwa di tengah hari-hari yang sulit dan menyakitkan ini, orang-orang harus tetap harus berjuang dengan menyebarkan kebaikan.

Puisi-puisi yang ditulis oleh anak-anak dari berbagai kalangan ini diharapkan bisa memicu semangat orang-orang untuk terus berjuang mengalahkan pandemi. Beberapa puisi ditujukan untuk para tenaga kesehatan, orang-orang yang kehilangan pendidikan dan pekerjaan, sampai anak-anak lain yang kehilangan keluarganya.

Sumber: BBC Channels

Melewati masa-masa pandemi memang tidak mudah, ya? Maka dari itu, karena masih dalam suasana memperingati Hari Puisi Sedunia yang berlangsung pada 21 Maret lalu, yuk, coba merefleksikan dan memahami pandangan kamu mengenai pandemi dan menggubahnya menjadi suatu karya sastra! Kamu bisa mencoba membuat beberapa puisi dari pengalaman-pengalaman selama pandemi. Karya tersebut bisa dibukukan, lho! Kamu bisa mencoba mengikuti pelatihan menulis seperti Book Writing Camp dan berbagai pelatihan lainnya untuk membantumu menulis.

Karya-karya sastra, terutama puisi, yang bertema seputar pandemi saat ini sudah banyak beredar di pasaran. Kalau kamu ingin membaca salah satunya, kamu bisa mendapatkannya di penerbit buku Malang atau toko-toko buku langganan kamu. Dengan banyak membaca atau menulis puisi, kamu bisa lebih memaknai berbagai hal yang terjadi, tidak luput peristiwa-peristiwa semasa pandemi.

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.

Continue Shopping