Pasti kita pernah mendengar kata atau istilah kekinian seperti netizen, julid, cie, pansos, dan sebagainya. Tahukah kalian kalau kata-kata tersebut sudah tercantum di dalam KBBI? Nah, istilah-istilah atau kata-kata yang kekinian ini sudah tercantum di dalam KBBI loh. Kata yang sehari-hari kita dengar di dalam percakapan dengan orang lain maupun di dalam penulisan di sosial media ternyata bisa diartikan pula di dalam KBBI. Eits, tidak hanya itu. Kata-kata yang berasal dari bahasa daerah pun juga bisa dimasukkan dalam KBBI loh.

Mayoritas orang tidak sadar kalau kata-kata kekinian maupun bahasa daerah itu sebenarnya sudah tercantum di dalam KBBI. Mereka mengganggap bahwa kata-kata tersebut hanya tersebar di lingkungan sekitar kita tanpa mengetahui siapa yang mencetuskan untuk pertama kali hingga ramai dipergunakan. Oiya, untuk dapat dimasukkan dalam KBBI itu tidak asal-asalan loh. Ada beberapa syarat yang harus dilakukan.

Apa saja sih syarat-syaratnya?

Untuk masuk di dalam KBBI, sebuah kata haruslah unik. Mengapa? Ini berguna untuk mempermudah kita dalam mencari maknanya. Sebuah kata yang berasal dari bahasa daerah, bahasa serapan, maupun istilah yang lagi tren biasanya belum memiliki makna di dalam bahasa Indonesia seperti baper, mager, pansos, dan sebagainya. Kita masih menerka-nerka makna di balik kata tersebut. Oleh karena itu kata-kata tersebut perlu diteliti terlebih dahulu penggunaannya agar dapat menemukan makna yang tepat dan dapat dicantumkan di dalam KBBI.

Selain unik, kata-kata yang akan dimasukkan dalam KBBI haruslah yang enak didengar. Ketika kita ingin memasukkan kata-kata yang susah dilafalkan dan tidak lazim digunakan di dalam bahasa Indonesia akan mempersulit penutur Indonesia. Mereka akan belibet saat mengucapkan kata tersebut dan akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan saat salah mengucapkannya.

Syarat yang ketiga adalah kata tersebut harus sering dipakai di kegiatan sehari-hari atau di lingkungan kita. Siapa sih yang tidak mengetahui kata baper, mager, rebahan, cie, pansos, julid, dan netizen? Semua orang pasti mengetahuinya karena kata-kata tersebut sering dipergunakan dan sering didengar dalam kegiatan sehari-hari. Kata-kata tersebut juga tersebar luas di seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya kaum muda saja, para orang tua pun ketika mendengar kata-kata ini disebutkan pasti akan menjawab “Pernah mendengar” ketika ada seseorang yang bertanya padanya.

Nah, ini adalah syarat yang paling penting. Dalam hal apa pun pasti kita dilarang untuk melakukan sesuatu yang mengandung unsur SARA atau unsur-unsur negatif. Hal ini juga berlaku pada syarat-syarat sebuah kata agar dapat dimasukkan dalam KBBI. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sangat tidak menyetujui apabila terdapat sebuah kata yang mengandung konotasi negatif, misal saja kata untuk mengumpat.

Di dalam KBBI, kata-kata yang mengandung unsur umpatan dalam dialek daerah mana pun pasti tidak dapat ditemukan artinya. Mengapa? Ini semua karena Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menganggap bahwa kata umpatan tersebut mengandung konotasi yang negatif meskipun kerap kali dipakai dan frekuensi kemunculannya sangat tinggi. Jika ditemukan kata yang berunsur negatif, pihak Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa akan menganjurkan seseorang yang mengajukan kata tersebut untuk mengganti dengan kata-kata lainnya yang masih mengandung unsur-unsur positif.

Itu tadi beberapa syarat sebuah kata bisa dimasukkan dalam KBBI. Masih adakah kata-kata kekinian atau kata-kata yang kerap didengar tapi tidak ditemukan maknanya di dalam KBBI? Kalau masih ada beberapa kata yang tidak dapat ditemukan dalam KBBI, coba usulkan pada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dengan mengikuti syarat-syarat yang telah ditentukan ya.

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0

No products in the cart.