Penggunaan spasi dalam sebuah tulisan memiliki peran penting. Hal ini memang tidak secara gamblang dijelaskan dalam PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Akan tetapi, kita tetap bisa mengetahui gambaran aturan penggunaan spasi melalui contoh-contoh yang terdapat dalam pedoman tersebut.

Pada tanda baca, seperti titik, koma, tanya, dan seru tidak diberi spasi sebelum tanda baca tersebut, tetapi spasi diberikan setelah tanda baca. Sementara untuk tanda hubung, pisah, dan garis miring tidak diberi spasi, baik sebelum maupun setelah tanda baca tersebut.

Berikut ini gambaran aturan pengunaan spasi pada tanda baca.

  1. Spasi setelah tanda baca

Pemberian spasi diberikan setelah tanda baca titik, koma, titik dua, tanya, dan seru. Akan tetapi, ada kondisi di mana pemberian spasi setelah titik dan koma tidak dibolehkan, yaitu saat digunakan untuk memisahkan bagian angka (bilangan atau waktu). Misalnya, Rp10.000,00 atau pukul 08.00. Selain itu, tanda titik yang ada dalam unsur singkatan juga tidak memerlukan spasi setelahnya, tetapi spasi diberikan pada titik yang terakhir. Misalnya, W.R. Supratman.

  1. Spasi sebelum tanda baca

Ada satu tanda baca yang menggunakan spasi sebelumnya, yaitu tanda baca apostrof (‘). Tanda baca apostrof ini dikenal sebagai tanda penyingkat kata. Artinya, tanda baca iini menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun. Misalnya, “Kamu sudah makan, ‘kan?”

Peran spasi memang hanya sekadar ruang kosong pada tulisan. Akan tetapi, ruang kosong ini kerap sangat berperan dalam meningkatkan keterbacaan suatu tulisan. Oleh karena itu, perlu diperhatikan kembali pemberian spasi yang benar.

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.