Sejarah telah mencatat bahwa pandemi Covid-19 yang sedang terjadi saat ini bukanlah pandemi yang pertama kali di dunia. Pandemi yang terjadi telah membawa dampak besar dan mampu memengaruhi seluruh lapisan elemen yang ada, termasuk bidang ibadah haji. Dalam buku Ibadah Haji di Tengah Pandemi COVID-19 karya M. Imran S. Hamdani telah disebutkan setidaknya dua pandemi yang pernah terjadi di dunia, sebelum Covid-19.

Selama pandemi berlangsung, dampak yang cukup parah juga dirasakan oleh dunia ibadah haji. Bagaimana tidak, ibadah yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya jemaah-jemaah muslim dari seluruh penjuru dunia ini sudah tidak bisa lagi dirasakan oleh seluruh jemaah di dunia. Hal ini karena selama pandemi berlangsung, pemerintahan Arab Saudi telah sigap melakukan tindakan untuk menanganinya.

Kilas Balik Jejak Pandemi Dunia

Sebelum membahas mengenai tindakan yang dilakukan oleh Arab Saudi, terlebih dahulu akan dipaparkan pandemi apa saja yang pernah terjadi di dunia selama ini. Pandemi yang pertama kali terjadi adalah pandemi wabah Justinian. Pandemi ini diperkirakan telah menewaskan 30—50 juta orang.  Akibat penyakit tersebut, sebagian besar perdagangan terhenti dan kekaisaran melemah. Selanjutnya, ada pandemi black death, cacar, kolera, flu Spanyol (H1N1), SARS, flu babi, dan ebola.

Sumber: Dokumen Litera

Dalam buku Ibadah Haji di Tengah Pandemi COVID-19, ada dua pandemi yang dipaparkan, yaitu pandemi kolera dan pandemi meningitis. Wabah kolera pertama kali terjadi di India pada tahun 1817, yang kemudian menyebar ke beberapa negara hingga Arab Saudi. Kolera adalah penyakit dengan gejala diare hebat diikuti muntah-muntah. Dalam kasus ini, penderita dapat dengan cepat kehilangan cairan dan mengakibatkan kegagalan organ hingga kematian.

Wabah kolera juga terjadi di beberapa daerah di Arab Saudi, seperti Makkah. Kasus terparah yang terjadi di Makkah terjadi pada tanggal 1865 dan mengakibatkan 15 ribu dari 90 ribu jemaah wafat. Setelah ada beberapa kasus lagi, banyak negara yang mengikuti konferensi internasional untuk membahas mengenai pengendalian dan pencegahan semakin menyebarnya wabah kolera. Tentu, konferensi tersebut tak dilakukan sekali atau dua kali saja agar bisa menciptakan situasi kembali normal.

Akan tetapi, meski dilakukan pencegahan dan pengendalian, wabah masih sulit untuk dihilangkan. Hal ini terbukti dengan timbulnya wabah baru yang terjadi beberapa tahun berikutnya, yaitu wabah meningitis. Tak jauh beda dengan wabah kolera, wabah ini juga menimbulkan banyak korban jiwa. Wabah yang diakibatkan karena radang selaput otak yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitides ini ditengarai berasal dari negara-negara di Sabuk Afrika Sub Sahara. Wabah ini pun dapat menular dari manusia ke manusia lainnya melalui air liur, batuk, dan bersin. Tak bisa dimungkiri, wabah ini pun juga sulit untuk mereda atau menghilang, meski telah dilakukan pengendalian dan pencegahan seperti pada wabah kolera sebelumnya.

Kiat Dunia Menjaga Kawasan Makkah

Sebagai tempat berkumpulnya orang banyak, situasi pandemi membuat Makkah dan sekitarnya menjadi kawasan yang mampu menyebarkan penyakit. Sejak itu, wajah haji jadi berubah. Wabah kolera dan meningitis yang berlangsung bertahun-tahun di Semenanjung Arab telah mengubah proses perjalanan ibadah haji. Kita tahu bahwa wabah kolera dan meningitis tidak berasal dari tanah suci. Penyakit tersebut masuk ke tanah suci dari jemaah haji yang berasal dari negara terjangkit, di mana mereka kebanyakan jemaah yang tanpa gejala. Dari situ, penyakit menjadi momok dalam perjalanan menuju tanah suci, selain badai dan perompak.

Hal ini membuat dunia, khususnya pemerintah Arab Saudi melakukan tindakan untuk meminimalisasi penyakit masuk ke Tanah Suci. Berbagai hal dilakukan, mulai dari tindakan pencegahan yang dilakukan oleh penyelenggara haji itu sendiri, maupun tindakan yang dilakukan oleh jemaah.

Sumber: dunia.rmol.id

Ya, sebagai penyelenggara ibadah haji, semua petugas harus bersedia dan mau melakukan tindakan preventif untuk mencegah semakin meningkatnya angka korban dan kematian serta menahan laju penularan. Adapun tindakan yang dilakukan oleh penyelenggara haji, yaitu dengan tidak memberangkatkan jemaah haji saat terjadi lonjakan kasus di negara terjangkit. Tentu ha ini juga didukung dengan memberi informasi yang jelas mengenai situasi dan kondisi jika jemaah melakukan ibadah haji.

Untuk jemaah yang berangkat, terlebih dahulu dilakukan karantina sebelum masuk tanah Hijaz. Selain itu, dilakukan pembatasan jumlah penumpang kapal yang mengangkut jemaah haji. Kapal pengangkut tersebut juga harus membawa tenaga medis yang berkualifikasi untuk melakukan pemeriksaan kesehatan para jemaah di dalam kapal.

Terakhir, pemberian vaksinasi. Tindakan yang dianggap lebih preventif ini cukup menekan angka korban, meski tidak ada vaksinasi yang memberikan perlindungan 100%. Kemungkinan tertular dan menularkan masih tetap ada, meskipun dalam persentase yang lebih kecil dibandingkan mereka yang tidak divaksin.

Harus diakui bahwa seluruh aturan kesehatan untuk mencegah transmisi penyakit menular di masa lampau sebagian besar masih diterapkan hingga saat ini. Dengan begitu, setiap jemaah haji harus melalui proses tersebut. Selain itu, para penyelenggara ibadah haji juga harus menjamin dan memastikan seluruh aturan kesehatan dipatuhi oleh jemaah haji agar terhindar dari risiko penularan dan mencegah dampak negatifnya.

Harapannya, dengan tindakan-tindakan yang diupayakan dapat menyadarkan kita untuk tetap waspada dan selalu taat akan protokol kesehatan yang berlaku. Dengan begitu, pandemi bisa dilalui dengan aman.

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0

No products in the cart.