Sumber: rri.co.id

Membicarakan penyakit kanker saat ini sudah tidak asing di telinga. Semua orang, baik laki-laki maupun perempuan tidak sungkan-sungkan lagi membahas penyakit ganas ini. Apalagi jumlah angka kematiannya yang semakin meningkat setiap tahun mampu mengiris hati.

 

Semakin mengejutkan lagi bahwa dari peningkatan itulah kanker menduduki urutan kedua penyakit terbesar di dunia. Kanker payudara menjadi salah satu jenis kanker yang paling banyak diderita oleh perempuan dengan prevalensi sangat tinggi di seluruh negara di dunia (American Cancer Society, 2015). Mirisnya, hingga detik ini belum ditemukan terapi untuk membunuh sel kanker tersebut dari tubuh manusia.

 

Sebagai Orang Awam, Jangan Menutup Mata dengan Dua Hal Ini

Tahun demi tahun, mata kita disuguhkan dengan data penderita penyakit kanker yang telah diperbarui. Data yang mencengangkan dan mengenas berkata bahwa angka kejadian tertinggi untuk kanker payudara, yaitu 1,4 per 1000 penduduk pada tahun 2013 meningkat menjadi 1,79 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Menilik peningkatan kanker payudara, tentu perlu adanya upaya peningkatan kesadaran masyarakat tentang penyakit tersebut.

 

Sebagai orang awam, setidaknya perlu mengetahui faktor yang memengaruhi risiko kanker payudara. Bukan hanya itu, tetapi tanda dan gejalanya pula. Bukan semata-mata untuk kebaikan diri sendiri, melainkan untuk kebaikan banyak orang. Kita bersama-sama sadar akan bengisnya penyakit ini.

 

Faktor risiko kanker payudara menurut Poltekkes Kemenkes Yogyakarta (2021), terdiri dari empat faktor, yaitu faktor reproduksi, ekdoktrin, diet, dan genetik. Faktor reproduksi meliputi usia menarche dini, ehamilan pertama, paritas yang rendah, dan masa laktasi. Sementara faktor ekdoktrin meliputi kontrasepsi oral dan terapi sulih hormon. Di sisi lain, ada faktor diet yang meliputi konsumsi lemak, konsumsi alkohol, dan obesitas. Terakhir adalah faktor genetik.

 

Menurut Ariani (2015), ada beberapa tanda dan gejala kanker payudara, yaitu adanya benjolan pada ketiak, perubahan ukuran dan bentuk payudara, keluar cairan darah atau berwarna kuning sampai kehijau-hijauan yang berupa nanah, puting susu atau areola (daerah coklat di sekeliling susu) payudara tampak kemerahan dan puting susu tertarik ke dalam atau terasa gatal, benjolan awal memang tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi membuat permukaan sebelah pinggir payudara tidak teratur, dan semakin membesar kanker pada payudara membuat benjolan menempel pada kulit sehingga menimbulkan borok.

 

Tidak dapat dimungkiri, tanda dan gejala tersebut penting untuk diketahui sebagai orang awam agar tahu harus mengambil langkah apa selanjutnya. Semua memang sudah diatur oleh-Nya, tapi mendeteksi sejak dini sebuah penyakit adalah sebuah usaha. Sebagai manusia, sejatinya perlu berusaha terlebih dahulu dan bukan hanya pasrah terhadap penyakit yang dideritanya.

 

Ketuk Hati Khalayak Ramai untuk Lebih Tahu Penyakit Kanker Payudara

Sumber: idntimes.com

 

Segala hal di bumi berjalan seperti biasanya, tetapi tepat di bulan Maret pekan ketiga 2012 silam, bagi Endri Kurniawati segalanya mendadak berhenti. Semesta memberikan kejutan kelam lantaran benjolan di atas dada kanannya. Diagnosis yang diberikan oleh dokter membuatnya lemah—bukan seperti dirinya yang biasanya.

 

“Anda mengidap kanker stadium dua dengan diameter 2,5 cm” begitu kira-kira kata seorang dokter di Ibu Kota kepada Endri Kurniawati. Seolah masih belum percaya atas deteksi dini itu, ia pun meminta rekomendasi dokter dari seorang temannya yang berprofesi sebagai dokter paru. Ia akhirnya direkomendasikan kepada salah satu dokter di Surabaya. Dokter itu pun mengatakan hal yang sama, Endri Kurniawati mengidap penyakit kanker payudara dan ternyata tidak hanya terdapat satu benjolan, melainkan ada benjolan juga di dada kirinya.

 

Setiap orang yang didiagnosis penyakit ganas seperti ini akan diam terpaku dan pikiran pun serasa melayang ke mana-mana, apalagi bagi orang awam yang tidak mengetahui bagaimana penyakit kanker payudara itu. Di dalam kondisi seperti ini, Endri Kurniawati sebagai orang awam berupaya untuk tetap berpikir jernih dan mencari pengobatan terbaik. Endri Kurniawati yang saat itu bekerja di Tim Redaksi Tempo memutuskan untuk mutasi tugas dari Jakarta ke Surabaya.

 

Menjalani pengobatan bagi pasien kanker payudara adalah perjuangan sangat berat. Di setiap pengobatan, selalu hadir sebuah keputusan-keputusan yang harus diambil. Keputusan ini tidak mudah karena berurusan dengan hidup dan mati. Bagi orang awam, memiliki dua benjolan sekaligus bisa membuat mereka down.

 

Kegalauan datang menghampirinya, antara mengangkat payudara kanannya atau tidak. Namun, dengan berat hati dan setelah berdiskusi dengan dokter dan ibunya, ia dengan lapang dada memutuskan untuk mengangkat payudara kanannya, sedangkan payudara kiri dioperasi untuk pengambilan tumor. Sungguh keputusan yang amat sulit dan sesak di dada.

 

Fase pengobatan dilalui Endri Kurniawati dengan tangguh. Perjuangannya masih belum selesai. Setelah operasi berhasil, ia masih harus menjalani kemoterapi dan meminum obat-obatan yang diberikan.

 

Melewati masa-masa kelam sebagai orang awam yang tidak menyangka akan mengalami ini—penyakit kanker payudara, ia merasa perlu membagikan kisahnya kepada khalayak ramai terutama para pasien kanker payudara. Ide menulis buku sebenarnya hadir dari seorang teman, tetapi setelah dipikir-pikir ia memang perlu membagikan ceritanya. Menurutnya, masyarakat perlu tahu bagaimana cara pasien payudara menghadapi psikisnya hingga pengobatan bagaimana yang paling efektif.

 

Orang lain bahkan dokter pun tidak pernah tahu bagaimana rasanya, kecuali jika ia pernah mengalaminya. Sebagai orang awam yang pernah mengalaminya, Endri Kurniawati ingin menguatkan dan memberikan dukungan kepada para pasien kanker payudara melalui buku yang ditulis. Ia pun mulai menulis buku berseries ini pada bulan April 2015, yang pertama berjudul “Tubuhku Panglimaku”, sedangkan buku kedua berjudul, “Mindset Kuncinya”.

 

Buku pertama “Tubuhku Panglimaku” bercerita tentang bagaimana cara menjaga kondisi fisik setelah menjalani pengobatan kanker yang panjang dan berat, menjaga makanan yang dikonsumsi, menertibkan waktu tidur, menghadapi dan mengatasi efek kemoterapi, serta menjaga tubuh agar tetap fit dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Buku kedua “Mindset Kuncinya” bercerita tentang bagaimana merawat jiwa setelah menerima vonis kanker payudara, cara meredam stres yang ditimbulkan oleh pekerjaan dan kehidupan sosial sehari-hari, hingga membuat psikis yang awalnya down menjadi pulih serta bersemangat kembali. Buku-buku yang ditulis seperti memberikan panduan hal-hal apa saja yang perlu dilakukan oleh pasien kanker payudara, tetapi dibalur dengan bahasa storytelling yang ringan dan nyata.

 

Endri Kurniawati menyampaikan bahwa keterbukaan dan dukungan dari orang-orang terdekat adalah kunci penting dalam proses melewati kekelaman ini. Pasien kanker payudara sudah memiliki beban yang besar, jadi dibutuhkan dukungan dari lingkungan yang positif. Sejauh melewati terjalnya perjalanan itu, ia bersyukur di kelilingi oleh orang-orang yang mengerti dirinya dan setidaknya tidak menambahkan beban sosialnya. Ia berharap semoga buku yang ia tulis bisa menjadi secercah harapan dan semangat bagi para pasien kanker payudara untuk sembuh.

 

Rujukan

Ariani.S, 2015. Stop Kanker. Yogyakarta: Penerbit Istana Media.

Gaulisa Risdaryani, 2020, Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Kanker Payudara di Wilayah Kota Yogyakarta. Skripsi Thesis, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0

No products in the cart.