“Apa sih outline itu?”

“Gunanya untuk apa?”

“Bagaimana cara membuatnya?”

Nah, pasti di dalam benak kita sering timbul pertanyaan-pertanyaan yang cukup meresahkan. Pertanyaan ini kerap kali muncul ketika kita ingin membuat sebuah karya dan dikirimkan kepada penerbit kemudian pihak penerbit meminta untuk menuliskan naskahnya sesuai dengan outline yang telah dibuat sebelumnya. Outline itu istilah keren dari kerangka. Biasanya, para penulis membuat kerangka terlebih dahulu sebelum memulai untuk menulis. Ya kalau dianalogikan pada tentara, outline ini merupakan senjata yang harus disiapkan sebelum berperang. Outline ini sebenarnya dibuat untuk memudahkan kita dalam menulis. Sebenarnya bisa saja kita menulis tanpa membuat outline terlebih dahulu, akan tetapi kita tidak akan bisa menjamin bahwa naskah yang kita buat berisikan konten-konten yang saling berkesinambungan. Lalu bagaimana caranya untuk membuat sebuah outline atau kerangka dalam menulis?

Cara Membuat Outline untuk Sebuah Tulisan

Sebelum kita belajar untuk membuat outline, kita harus tahu terlebih dahulu. Outline ini biasanya digunakan oleh penulis novel maupun cerpen agar mereka dapat mengingat sistematika yang harus ia tulis pada setiap babnya. Akan tetapi, sebenarnya outline ini bisa juga kita gunakan di saat kita ingin menulis buku nonfiksi loh. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ketika diterapkan di dalam sebuah buku nonfiksi outline ini cara kerjanya juga sama ketika diterapkan pada buku fiksi. Pada dasarnya, outline itu berfungsi sebagai pedoman atau panduan kita dalam menulis agar tidak terlalu melebar dari tema yang akan  kita tulis. Sama halnya ketika kita menulis naskah pidato, kita pasti akan menyiapkan kerangkanya terlebih dahulu agar pembahasannya tidak melenceng.

Nah, bagaimana sih cara membuatnya? Cara membuat outline itu gampang gampang susah. Kita pasti akan dihadapkan pada satu masalah pada saat membuat outline, yaitu bingung menentukan jumlah bab dan meletakkan bagian-bagian untuk setiap babnya. Untuk mengatasi itu semua, berikut beberapa tips yang bisa digunakan dalam membuat outline.

Tentukan Konsep Dasar dari Naskah yang Kita Buat

Konsep seperti apa yang dimaksud? Begini, konsep ini bisa meliputi jenis karya yang dibuat entah itu fiksi maupun nonfiksi. Setelah itu, tentukan tema yang ingin kita angkat menjadi sebuah tulisan entah tema percintaan, persahabatan, kekeluargaan, dan sebagainya. Setelah menentukan tema, baru kita bisa menentukan judulnya. Jangan terbalik! Kebiasaan buruk seseorang apalagi penulis pemula biasanya memilih judul terlebih dahulu baru menentukan tema. Ini akan membuat tema dengan judul sering bertolak belakang. Setelah mendapatkan judulnya, baru kita menentukan tokoh dan penokohan dan sudut pandangnya. Kita bisa menentukan tokoh di dalam naskah yang akan kita tulis ini apakah diri kita sendiri atau menghadirkan orang lain yang menjadi diri kita. Dengan begitu, kita akan mudah menentukan sudut pandang seperti apa yang akan digunakan di dalam naskah kita. Terakhir, tentukan amanat atau solusi yang dapat diambil setelah membaca naskahnya. Amanat atau solusi ini dapat ditulis eksplisit maupun implisit, tergantung keinginan kita sebagai penulis.

Tulislah Konten Pada Bab Secara Runtut

Sebelum menuliskan bagian-bagiannya, kita harus menentukan jumlah bab untuk buku kita. Tidak perlu terlalu banyak. Sebuah buku yang menarik, tidak ditentukan dari banyaknya jumlah bab. Setiap bab bisa dipecah lagi menjadi beberapa bagian atau chapter. Setelah kita menentukan jumlahnya, barulah kita bisa menuliskan bagian-bagian pada bab kita. Usahakan untuk menulis konten pada bab secara runtut agar kita tidak kebingungan saat menulis. Jangan sampai ada hal-hal penting yang seharusnya dicantumkan sebagai konten pada bab kemudian terlewatkan begitu saja.

Contohnya, jika kita membuat buku biografi. Usahakan kita menuliskan konten secara runtut pada setiap babnya. Misalkan pada bab pertama menceritakan tentang latar belakang keluarganya hingga ia dilahirkan. Kemudian dilanjutkan di bab berikutnya tentang kisah hidup semasa ia kecil, di mana ia tinggal, bagaimana kondisinya pada waktu itu, dan sebagainya. Ceritakan pula konflik-konflik pada naskah kita agar kita juga dapat mengatur timing dari konfliknya, kapan konflik ini memuncak dan kapan konflik ini seharusnya klimaks. Setelah itu, jika ingin memberikan pesan kepada para pembaca, masukkan pesan tersebut ke dalam konten dari salah satu babnya. Jangan sampai ketika memasukkan konten di dalam bab, kemudian ada beberapa hal yang dianggap penting untuk dicantumkan kemudian terlewatkan.

Itu adalah beberapa tips yang dapat kita lakukan untuk membuat outline. Outline ini dibuat sebelum memulai menulis. Outline bukanlah hal wajib yang dilakukan oleh penulis setiap kali akan menulis. Outline hanya berfungsi sebagai pedoman bagi para penulis agar memudahkan dalam setiap proses menulis. Kembali lagi pada pribadi penulis, apakah ia ingin menggunakan outline sebagai pedoman atau langsung tempur dan menghajarnya begitu saja.

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0

No products in the cart.