Selama ini, kita sebagai seorang penulis kemudian mendapat pertanyaan dari orang awam tentang jati diri sebagai penulis maka kita akan kebingungan menjawabnya. Ini semua karena kita sebagai penulis hanya melakukan pekerjaan yang kita sukai yakni menulis. Kita tidak pernah terpikirkan akan menggolongkan atau mengkategorikan diri kita ini ke dalam jati diri penulis yang seperti apa.

Jati diri dari penulis ini dinamakan tipe. Setiap penulis dapat digolongkan berdasarkan tipe-tipenya masing-masing. Mungkin ada beberapa dari kita yang memiliki kesamaan jati diri, mungkin juga ada yang memiliki jati dirinya sendiri. Kita tidak bisa memaksakan penulis lain untuk mengikuti jati diri kita karena itu adalah hak mereka dan kenyamanan mereka sebagai penulis. Ketika bertemu dengan seorang penulis yang senang menyendiri di tempat yang sepi kemudian dipaksa untuk dapat menulis di mana saja termasuk di keramaian mungkin dia akan merasa sangat kesulitan.

Apa saja sih tipe-tipe penulis ini?

Dari sekian banyaknya tipe-tipe penulis, ada 5 tipe yang dianggap paling banyak ditemui di kalangan penulis. Apa saja sih 5 tipe tersebut? Tipe yang pertama, senang menyendiri. Tanpa disadari, ada beberapa penulis yang senang menyendiri ketika sedang menulis. Semua ini mereka lakukan agar mendapatkan inspirasi. Menurut mereka, dengan menyendiri di sebuah ruangan atau kamar maka dirinya akan mendapatkan ide-ide yang cemerlang. Nah, ketika seseorang melabeli kita bahwa kita senang menyendiri ketika menulis justru si penulis ini menyangkalnya. “Ah, enggak kok. Aku bisa menulis di mana saja.” tapi pada kenyataannya, ketika dia menulis dengan banyak orang akan mendapatkan banyak gangguan dan tidak dapat menyelesaikan tulisannya.

Tipe yang kedua, menyukai kesunyian. Ini masih ada kaitannya dengan tipe yang pertama. Biasanya, tipe penulis yang pertama ini juga akan mendapatkan label pada tipe ini. Mayoritas orang akan menjulukinya sebagai penulis introver. Kok bisa? Ya bisa dong. Penulis yang seperti ini selain senang menyendiri, dia pasti akan sangat membenci keramaian. Menurutnya, dengan menyendiri di tempat-tempat yang sepi maka dia akan lebih mudah fokus dalam menyelesaikan tulisannya. Hal ini biasa terjadi pada orang-orang yang mudah terdistraksi oleh hal-hal yang ada di sekitarnya.

Tipe yang ketiga, penulis tapi pengacara. Gimana tuh maksudnya? Pernah nggak dengar istilah pengangguran banyak acara? Nah, penulis tapi pengacara ya begini. Dia sebenarnya adalah penulis tapi di satu sisi dia sok sibuk padahal tidak ada pekerjaan lainnya selain menulis. Penulis seperti ini banyak sekali kita temui di sekitar kita. Penulis yang suka menunda-nunda untuk menulis karena nyambi dengan aktivitas lainnya dan berujung pada tulisannya yang tidak kelar. Begitu ingin memulai menulis kembali, tak jarang akan menghadapi writer’s block karena sudah terlalu lama menunda-nunda untuk menulis dan tak jarang pula penulis lupa dengan apa yang dia tulis.

Tipe yang keempat, si tukang ngeluh. Setiap orang boleh kok kalau ingin mengeluh apalagi mengeluh pada Yang Maha Kuasa. Akan tetapi, terlalu banyak mengeluh juga tidak baik loh. Dalam hal apa pun, terlalu banyak atau terlalu sering mengeluh itu tidak baik ya. Sebagai penulis, kita tidak boleh terlalu sering mengeluh karena lelah menulis, cerita yang akan dituliskan kok tidak selesai-selesai, tokohnya nggak mau dibikin sengsara ah nanti kasihan, dan masih banyak lagi. Hei, terlalu sering mengeluh bikin karya kita tidak akan selesai loh. Katanya bercita-cita ingin menjadi penulis terkenal tapi kok selama prosesnya mengeluh terus? Hihi.Tipe yang terakhir, si profesional. Tipe ini adalah idaman semua penulis. Semua penulis pasti menginginkan untuk dapat menjadi penulis yang profesional, termasuk kita. Kita pasti ingin bisa menulis di mana saja, tidak ada hal yang dapat mengganggu diri kita saat menulis, tetap menjaga semangat kita saat menulis, dan dapat menulis dengan rutin. Sayangnya, untuk menjadi penulis yang profesional harus ada komitmen dari diri kita sendiri dan membuat komitmen itu adalah hal yang sangat sangat sulit jika tidak kita niatkan dalam lubuk hati kita.

Itu adalah beberapa tipe dari penulis. Mungkin ada beberapa penulis yang memiliki kesamaan jati diri dengan diri kita. Namun, ketika kita berjumpa dengan penulis lain dengan jati diri yang berbeda 180 derajat dari kita, jangan pernah kita memaksakan jati diri mereka untuk sama dengan kita. Jati diri mereka adalah hak mereka sebagai penulis yang tidak dapat diganggu gugat. Jadi, jati diri seperti apa yang melekat pada diri kita?

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0

No products in the cart.