Sumber: liputan6.com

 

Pak Sutopo, nama yang mulai dikenal banyak orang melalui teknologi bernama internet dan dapat dilihat menggunakan benda berbentuk persegi panjang yang kini menemani hampir seluruh aktivitas manusia di bumi ini. Gawai, itulah namanya. Hampir seluruh aktivitas, mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga beranjak tidur di malam hari, kedua tangan sekaan tak lepas dari si gawai ini. Memang, tak dapat dimungkiri bahwa keberadaan gawai telah mempermudah segala urusan kita. Mulai dari membaca berita kekinian, mencari resep masakan, membeli tiket penerbangan, bahkan memesan makanan, semua bisa dilakukan dengan barang canggih ini.

 

Namun, tanpa disadari keberadaan gawai ini rupanya telah menjauhkan kita dari sumber ilmu pengetahuan yang dikenal juga dengan jendela dunia yaitu buku. Keberadaan gawai membuat kita yang dulu menghabiskan hari dengan membaca novel ringan ala remaja menjadi menghabiskan hari dengan menatap layar mungil berpendar cahaya biru. Hal ini memang tidak sepenuhnya buruk. Namun, bila sampai menjauhkan dari buku, tentu itu hal yang sangat merugikan. Dengan menurunnya minat baca, tingkat literasi tentu juga rendah. Tingkat literasi rendah berkaitan dengan kualitas sumber daya diri yang rendah pula. Dampaknya, kita bisa saja tertinggal di perkembangan zaman yang makin modern ini. Untung saja, segelintir orang tidak mau hal tersebut sampai terjadi pada generasi penerus bangsa ini. Salah satu dari segelintir orang tersebut adalah Pak Sutopo.

 

“Membaca adalah kebutuhan, jangan pernah berhenti membaca karena dari membaca manusia bisa berkembang mengikuti kemajuan zaman,” begitulah nasihat yang beliau sampaikan melalui Tribun Jogja pada 10 Juli 2017.

Lalu, siapakah sebenarnya Pak Sutopo ini?

 

Si Tukang Becak Pensiunan PNS

Pak Sutopo, atau yang biasa disapa dengan Pak Topo adalah seorang penarik becak kayuh di salah satu sudut jalanan Kota Yogyakarta. Menariknya, jauh sebelum menjadi penarik becak kayuh, Pak Topo dulunya adalah seorang PNS Kodim 0734 Yogyakarta. Ia pensiun dari profesinya sebagai PNS pada tahun 2003. Itulah titik awal Pak Topo mengisi hari-harinya dengan mengayuh pedal becak ke sana kemari mengelilingi jalanan Kota Pelajar itu. Bagi Pak Topo, tak ada kata pensiun, ia harus tetap bekerja meski sudah tak menjadi PNS lagi. Pilihan jatuh pada penarik becak kayuh karena mengayuh pedal bisa sekaligus menjadi kegiatan olahraga bagi Pak Topo.

Sumber: duniaperpustakaan.com

Akan tetapi, setiap profesi pasti memiliki tantangan. Begitu pula profesi penarik becak kayuh yang dipilih Pak Topo ini. Pak Topo tidak melulu menghabiskan harinya dengan mengayuh pedal mengelilingi kota. Ada kalanya Pak Topo harus berhenti dan menunggu datangnya seorang penumpang. Di saat inilah Pak Topo membuka jendela dunianya. Membuka lembar demi lembar dari buku-buku yang sengaja dibawa untuk mengisi kekosongan waktunya. Membaca buku memang telah menjadi kebiasaan Pak Topo sejak duduk di bangku sekolah dasar. Itulah mengapa mudah saja baginya menghabiskan waktu di tengah hiruk pikuk Yogyakarta dengan membaca buku. Kebiasaan Pak Topo ini mengundang perhatian salah seorang langganan. Hingga suatu ketika si langganan ini membawakan Pak Topo empat puluh buah buku. Inilah awal mula terciptanya perpustakaan mungil di becak Pak Topo. Bermula dari lima buku yang dibawa setiap hari, bertambah empat puluh buku dari seorang langganan, hingga kini telah mencapai seratus buah buku.

 

Seratus buku yang menghiasi becak Pak Topo membuat becak tersebut berbeda dari becak lainnya. Banyak orang menyebut becak tersebut dengan sebutan Becak Perpustakaan. Hingga akhirnya, Pak Topo menamainya Becak Pustaka. Lalu, bagaimana bisa Pak Topo menyimpan seratus buku di dalam becak kecilnya? Caranya adalah dengan menyulap bagian kanan, kiri, dan belakang kursi penumpang menjadi rak minimalis yang nyatanya mampu menampung buku-buku tersebut. Seratus buku di becak kecil Pak Topo ini menambah beban sekitar satu orang dewasa. Artinya, meski sedang tidak ada penumpang pun, mengayuh becak kecil Pak Topo sekaan-akan sedang mengantarkan seorang penumpang. Meski demikian, Pak Topo tidak keberatan dengan hal ini. Baginya, menyulap becak kecilnya menjadi becak pustaka adalah salah satu upaya untuk membantu meningkatkan minat baca orang-orang di sekitarnya, terutama anak-anak.

 

“Saya juga prihatin anak-anak ngalor-ngidul cuma bawa handphone keluar masuk internet. Mereka meninggalkan buku sehingga sibuk dengan handphone-nya. Menurut penilaian saya, buku sumber ilmu pengetahuan tak terbatas. Maka, saya bertekad meningkatkan lagi semangat baca anak-anak,” ucap Pak Topo pada salah satu wawancaranya dengan Kumparan.com. Begitulah niat baik menghasilkan yang baik pula, bahkan lebih dari itu. Keinginan kuat Pak Topo untuk meningkatkan literasi anak Yogyakarta nyatanya tidak hanya mendatangkan anak-anak saja, tapi juga pedagang, sesama tukang becak, hingga pemulung. Berbagai kalangan hilir mudik mengunjungi Becak Pustaka Pak Topo. Mereka tak bosan dengan buku-buku yang disediakan karena tidak hanya cerita anak saja, tapi juga terdapat buku sejarah, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, hingga kisah para orang sukses.

 

Berbagi Pengetahuan Tidaklah Merugikan

Bermodalkan seratus buah buku dari berbagai genre di Becak Pustakanya, Pak Topo rupanya tidak memperoleh barang sepeser pun. Ya, Pak Topo memang tidak menarik uang sewa alias gratis bila kita ingin membaca di Becak Pustakanya. Pak Topo bahkan mengiakan dengan senang hati bila ada yang membawa pulang buku-bukunya. Tak ada sedikit pun perasaan rugi pada diri Pak Topo meski bila buku yang dipinjamkan tidak dikembalikan. Pak Topo menyadari bahwa bagi masyarakat kalangan bawah, hampir tidak mungkin memasuki perpustakaan formal dan menyerap ilmu di sana. Apalagi bagi para pedagang dan pemulung, mereka juga hampir tidak mungkin membeli buku sendiri karena harganya tidaklah murah.

Sumber: bbc.com

Hal yang sungguh miris, tapi nyata adanya. Padahal, pengetahuan adalah jendela bagi kita untuk melihat dunia sekitar, untuk menyambut kemajuan zaman yang datang menghampiri. Hal yang disadari Pak Topo hingga membuatnya tak hanya berhenti di Becak Pustaka miliknya. Pak Topo juga mulai menulis sebuah surat cinta untuk sang presiden, Bapak Joko Widodo. Surat cinta tersebut berisi curahan hati Pak Topo mengenai perjalanan hidup dan keinginannya untuk mempunyai becak listrik dengan lebih banyak buku. Hal yang ingin Pak Topo wujudkan dengan disetujuinya becak listrik tersebut adalah ia mampu berkeliling lebih jauh lagi dan menjangkau lebih banyak pembaca lagi. Namun, memang saat ini baru 75% dari keseluruhan isi surat cinta yang Pak Topo tuliskan, ia berkeinginan kuat untuk bisa segera menyelesaikannya.

 

Pak Topo, seorang pejuang literasi di tengah hiruk pikuk masyarakat penikmat gawai, benda canggih dengan pancaran cahaya biru. Tak kenal lelah mengayuh pedal becak kecilnya mengitari jalanan Yogyakarta untuk membukakan jendela dunia bagi para kalangan, terutama mereka yang mungkin tak sempat mencicipi indahnya bangku sekolah. Semoga kisah Pak Topo ini mampu membuka hati kita semua dan memunculkan Pak Topo lainnya, pejuang literasi hebat di tengah berbagai teknologi yang memudahkan, tapi juga mampu membuat kita terlena dan menutup jendela dunia kita.

 

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0

No products in the cart.