Sumber: Dokumen Litera Mediatama

 

Berdasarkan data PBB pada tahun 2021, sekitar 15% dari total 7 miliar penduduk dunia adalah penyandang disabilitas. Adapun di Indonesia sendiri, jumlah kalangan disabilitas sekitar 9,7% dari total seluruh penduduk atau mencapai 209.604 orang (Kemensos, 2021). Data ini bukan sekadar angka, melainkan realitas orang-orang yang menjalani kehidupan sama seperti kita. Mereka pun berstatus sebagai warga negara Indonesia, yang artinya mereka memiliki hak-hak sama seperti warga negara lain. Termasuk hak untuk memberdayakan diri melalui kegiatan produktivitas serupa pelatihan.

Yang menjadi persoalan adalah belum semua pihak menyadari dan bersedia memfasilitasi pemenuhan hak para disabilitas ini. Masih dijumpai sejumlah problem klasik yang mengesampingkan kebutuhan para disabilitas dalam forum resmi. Padahal, baik disabilitas maupun nondisabilitas, semua peserta yang tergabung dalam forum pelatihan berhak mendapatkan perlakuan adil dari fasilitator dan segenap kru penyelenggara kegiatan.

 

Problem yang Sering Terjadi dalam Pelatihan dengan Peserta Disabilitas

Sumber: salatiga.go.id

Secara umum, ada dua tipe pelatihan berdasarkan karakteristik pesertanya, yaitu pelatihan homogen dan pelatihan heterogen. Pada pelatihan homogen, peserta pelatihan adalah dari kalangan yang sama berdasarkan karakteristik tertentu, misalnya peserta memiliki pekerjaan yang sama, usia sama, daerah tempat tinggal sama, dan sebagainya. Sementara itu, peserta pada pelatihan heterogen lebih variatif. Ada perbedaan karakteristik tertentu, seperti beda rentang usia, beda jabatan, dan sebagainya.

Pelatihan heterogen meniscayakan adanya campur-baur antara peserta disabilitas dan nondisabilitas. Karena belum semua pelatih atau fasilitator memahami bagaimana treatment yang tepat untuk peserta heterogen semacam ini, tak jarang memunculkan persoalan dalam kegiatan pelatihan. Berikut beberapa problem yang kerap terjadi dalam pelatihan dengan adanya peserta disabilitas.

1. Pelatih atau Fasilitator Mengistimewakan Peserta Disabilitas

Fakhrul Rizal (2022) dalam bukunya yang berjudul Get Your Eureka Training! menyampaikan bahwa peserta disabilitas sejatinya tidak ingin dipandang berbeda dari orang-orang pada umumnya. Mereka ingin diperlakukan sama, tidak perlu diistimewakan karena perlakuan istimewa justru membuat mereka semakin merasakan gap perbedaan dengan orang-orang kebanyakan. Dengan demikian, hendaknya pelatih atau fasilitator dapat memberikan perlakuan yang tepat bagi peserta disabilitas, tanpa membuat mereka merasa “beda” dari peserta lainnya.

2. Pemilihan Game atau Ice Breaker Tidak Cocok untuk Peserta Disabilitas

Game atau ice breaker bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan semangat peserta selama kegiatan pelatihan berlangsung. Namun, tujuan yang baik ini kadang bisa menjadi masalah apabila game atau ice breaker yang dipilih tidak sesuai dengan kondisi forum. Contohnya begini, dalam sebuah pelatihan ada peserta disabilitas yang membutuhkan kursi roda. Akan tetapi, game dalam forum justru mengharuskan peserta melakukan mobilitas dari satu posisi ke posisi lain. Tentu ini akan menyulitkan peserta disabilitas untuk ikut serta. Alhasil, jika game tetap diteruskan, peserta disabilitas hanya akan menonton tanpa bisa terlibat keseruannya.

3. Pelatih atau Fasilitator Membuat Peserta Disabilitas Tersisihkan dari Forum (Excluded)

Kebalikan dari pengistimewaan, ada pula pelatih atau fasilitator yang justru meniadakan kehadiran peserta disabilitas dalam suatu forum. Pelatih atau fasilitator hanya fokus berinteraksi dengan peserta nondisabilitas, aktif mengajak mereka terlibat dalam forum, sedangkan peserta disabilitas tidak diperhatikan sama sekali. Sebagai contoh, dalam sebuah pelatihan ada peserta disabilitas mental. Pelatih atau fasilitator tidak melibatkan peserta ini untuk menjawab pertanyaan yang diajukan, dengan pertimbangan tidak ingin memberatkannya untuk berpikir lebih mendalam. Padahal, perilaku semacam ini malah membuat peserta disabilitas tersisihkan. Cukup berikan porsi yang sama pada peserta untuk terlibat dalam setiap sesi pelatihan, tanpa memandang ia disabilitas atau bukan.

4. Sarana dan Prasarana Pelatihan Tidak Sesuai untuk Disabilitas

Selain aspek SDM penyelenggara, yang tidak kalah penting dalam sebuah pelatihan adalah saran dan prasarana penunjang. Peserta disabilitas mempunyai keterbatasan dalam melakukan kegiatan fisik tertentu, misalnya tidak bisa berjalan atau tidak bisa mendengar. Maka dari itu, sarana dan prasana yang disediakan perlu mengakomodasi keterbatasan tersebut sehingga tidak menyulitkan peserta disabilitas untuk turut berpartisipasi dalam forum pelatihan.

 

Pentingnya Ruang Ramah Disabilitas pada Forum Produktivitas

Sumber: pedulidifabel.ukm.ugm.ac.id

Belum banyak diskursus yang membahas tentang pelatihan inklusif bagi peserta disabilitas. Kalaupun ada, sebagian besar tersaji dalam bentuk modul formal sehingga hanya bisa diakses kalangan terbatas. Padahal, masyarakat luas perlu memahami bagaimana menciptakan inklusivitas pelatihan bagi peserta disabilitas. Dalam buku Get Your Eureka Training! (2022), Fakhrul Rizal menjawab persoalan tersebut dengan memberikan ragam tips untuk memfasilitasi pelatihan yang di dalamnya terdapat peserta disabilitas. Salah satu tipsnya adalah pelatih atau fasilitator maupun penyelenggara harus mampu menciptakan ruang ramah dalam forum yang melibatkan peserta disabilitas.

Mengapa ruang ramah ini penting diciptakan?

Pertama, agar para penyandang disabilitas bisa memperoleh haknya untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan sesuai amanat UU No. 8 Tahun 2016. Namun pada kenyataannya, belum semua kalangan disabilitas mendapatkan hak tersebut. Berdasarkan keterangan dari Komnas Disabilitas (2020), penyebab terbesarnya adalah belum tersedianya fasilitas dan prasarana yang menunjang kebutuhan disabilitas. Maka dari itu, dibutuhkan dukungan semua pihak terkait agar dapat membantu terselenggaranya pendidikan dan pelatihan yang inklusif bagi disabilitas.

Kedua, karena para penyandang disabilitas juga memiliki potensi diri yang dapat dikembangkan seoptimal mungkin, sama seperti orang-orang nondisabilitas lainnya. Tuhan telah menciptakan manusia dalam wujud sebaik-baiknya, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Termasuk penyandang disabilitas, barangkali mereka memang mempunyai kekurangan secara fisik, tetapi sangat mungkin mereka memiliki kelebihan dari aspek lain. Misalnya, ada seorang disabilitas netra yang ternyata dikaruniai kelebihan dalam hal pemikiran. Akan tidak adil baginya jika potensi kelebihan tersebut dibelenggu akibat keterbatasan fisik.

Ketiga, karena dalam sebuah forum, penyandang disabilitas tak alih bedanya dengan peserta nondisabilitas yang sama-sama ingin mendapatkan kenyamanan selama kegiatan berlangsung. Apabila setiap peserta sudah nyaman dalam forum, kegiatan pembelajaran akan berjalan kondusif dan produktif. Alhasil, output yang diharapkan juga akan lebih mudah tercapai. Hanya saja, perlu upaya sedikit lebih besar untuk memberikan kenyamanan bagi peserta disabilitas, mengingat mereka berkebutuhan khusus.

Berdasarkan ketiga alasan tersebut, dapat dipahami bahwa sejatinya forum pelatihan tidak memandang perbedaan disabilitas ataupun nondisabilitas. Siapa yang memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan diri, dialah yang berhak difasilitasi. Maka dari itu, pelatih atau fasilitator beserta penyelenggara perlu menghadirkan inklusivitas dalam forum pelatihan tanpa memandang keragaman di antara peserta. Caranya bisa dengan membuat suasana interaktif dan komunikatif di antara peserta.

Selain itu, bisa juga dengan memberikan apresiasi positif kepada para peserta yang terlibat. Tanpa ada pengecualian peserta disabilitas maupun nondisabilitas, semua peserta berhak dihargai atas apa yang telah mereka lakukan sepanjang pelatihan. Apresiasi yang diberikan bisa berwujud tepuk tangan, pujian, atau gift sederhana. Meskipun besarannya tidak seberapa, peserta akan merasa lebih dihormati dengan adanya apresiasi.

Sebagai pungkasan, dalam buku Get Your Eureka Training!, Fakhrul Rizal juga memberikan highlight bahwa kenyamanan setiap peserta dalam pelatihan adalah hal paling utama. Apabila peserta sudah nyaman, mereka akan lebih mudah menerima pembelajaran yang disampaikan pelatih atau fasilitator. Maka dari itu, peran penting pelatih atau fasilitator beserta jajaran penyelenggara sangat dibutuhkan guna terciptanya inklusivitas forum dalam pelatihan, terutama yang ada peserta disabilitas di dalamnya.

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.

Continue Shopping