Sumber: kearsney.com

 

Menjalani profesi sebagai penulis merupakan sebuah pilihan hidup. Sebuah pilihan yang tidak akan pernah lepas dari kemampuan menemukan, mengolah, dan menuangkan ide menjadi suatu karya yang berbentuk tulisan. Tidak hanya sekadar menemukan, mengolah, dan menuangkan ide, tetapi lebih luas daripada itu. Penulis juga harus mampu mengusung ide yang menarik dan fresh agar tetap ditunggu oleh pembacanya. Oleh sebab itu, penulis haruslah peka menangkap issue yang ada di masyarakat.

Menangkap issue yang sedang hangat diperbincangkan dalam masyarakat kerap kali dihubungkan dengan penulis industrialis. Salah satu jenis penulis yang bertolak belakang dengan penulis jenis kedua, penulis idealis. Memang, perbincangan mengenai penulis idealis dan penulis industrialis pun masih santer terdengar di dunia kepenulisan. Pro dan kontra sering kali bergulir di antara beberapa pihak yang berkecimpung di dalamnya. Ironis, tetapi begitulah kenyataannya.

Bagi sebagian orang yang memilih menjalani karier sebagai penulis idealis akan berpendapat bahwa menulis itu bagian dari mengekspresikan sebuah pikiran atau perasaan yang harus disampaikan secara jujur, bukan karena keterpaksaan, atau bukan untuk mengikuti selera pasar. Apakah pendapat tersebut benar? Sebagian orang yang berseberangan tentu akan berpendapat bahwa pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Seorang penulis industrialis akan menulis sesuai dengan kebutuhan pasar, issue hangat yang sedang banyak diperbincangkan, apa yang disukai pembaca, dan apa yang diinginkan perusahaan. Penulis jenis ini memiliki baromater terhadap nilai yang dihasilkan, salah satunya royalti.

Dari dua pandangan tersebut, salahkah apabila seorang penulis memutuskan dirinya menjadi penulis idealis ataupun penulis industrialis? Tentu tidak. Sebenarnya penulis berhak menentukan kapan dirinya harus berdiri sebagai penulis idealis dan kapan sebagai penulis industrialis, bahkan penulis berhak berdiri di antara keduanya. Hal ini sah-sah saja mengingat setiap orang yang terjun dalam profesi ini memiliki berbagai tujuan yang berbeda, ada yang memang ingin menulis saja sesuai dengan keinginan hati tanpa memikirkan apakah pembaca menyukainya atau tidak. Di sisi lain, ada juga penulis yang memang menulis dengan tujuan mendapatkan pendapatan sehingga ia akan menulis topik sesuai dengan apa yang dibutuhkan pembaca.

Sumber: freepik.com/drobotdean/

Beberapa kali muncul di media-media pemberitaan penyudutan terhadap salah satu jenis penulis. Ironis sekali apabila sesama pekerja kreatif saling menyerang pandangan satu sama lain. Padahal, selama seorang penulis merasa senang berada pada zonanya, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Baik idealis maupun industrialis alangkah lebih baik jika keduanya berfokus menghasilkan karya yang sesuai dengan pandangan yang dimiliki.

Penulis yang memiliki kemampuan hebat secara teknis tentulah banyak, tetapi penulis yang dapat memberi kesan atau paling tidak dapat mengubah hidup pembacanya untuk lebih baik tentu tidak semuanya. Hal inilah yang seharusnya menjadi pegangan bagi kedua penulis agar terpacu menghasilkan karya terbaik dengan versinya masing-masing. Misalnya, seorang penulis idealis bisa menulis topik sesuai keinginan hatinya dengan memberi sentuhan kata dan rasa di dalamnya, kemudian dieksekusi secara totalitas. Seperti istilah apa yang ditulis dari hati akan tersampakan pula  ke hati. Demikian juga dengan penulis industrialis dapat mengolah suatu issue yang ada di masyarakat dengan kreatif agar memiliki value dan memberi manfaat bagi pembaca.

Namun tak jarang, penulis idealis yang sudah terjun dalam dunia kerja profesional mengaku bahwa dirinya sulit mempertahankan idealisme yang dimiliki. Hal ini karena dalam dunia kerja profesional, penulis dituntut untuk menghasilkan karya sesuai selera pasar. Meski terkadang topik yang diangkat berbeda dengan apa yang diyakininya. Oleh sebab itu, penulis idealis terkadang berdiri secara indepeden karena memang tidak ingin digerakkan oleh kepentingan dan pihak manapun. Namun ada juga sebagian kecil perusahaan yang membebaskan penulis menghasilkan karya sesuai dengan idealisme yang dimiliki.

Memang tidak dapat dimungkiri jika tulisan yang sesuai dengan minat pasar akan lebih dicari oleh pembaca, tetapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa tulisan yang dihasilkan dari hati tanpa adanya paksaan dari pihak manapun juga disukai pembaca. Sekali lagi, setiap orang memiliki tujuan yang berbeda ketika terjun pada profesi ini. Menjadi idealis atau industrialis adalah pilihan bagi masing-masing orang. Pun penulis yang berdiri di antara keduanya atau biasa disebut penulis idealis-industrialis juga pilihan yang tak bisa disalahkan.

Sumber: qoala.app

Jika mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2007 tentang Sistem Perbukuan, penulis berperan dalam membangun peradaban bangsa melalui karya yang dihasilkannya. Namun tentunya, informasi yang disampaikan seorang penulis harus memuat nilai-nilai dan jati diri bangsa. Oleh sebab itu, meski terdapat perbedaan pandangan antara penulis idealis maupun industrialis, keduanya memiliki suatu kesamaan yang patut diapresiasi. Di mana keduanya berperan dalam membangun peradaban bangsa melalui karya tulis yang dihasilkannya.

Dengan begitu, penulis idealis seharusnya juga mampu membuka diri untuk mempelajari nilai jual dan selera pasar. Sangat disayangkan apabila tulisan berkuaitas tak pernah sampai di tangan pembaca. Sebaliknya, penulis industrialis juga harus berani membuka diri mempelajari bagaimana menghasilkan naskah yang berkualitas. Jika hal ini dilakukan, Indonesia akan memiliki penulis-penulis hebat yang tak hanya mampu menghasilkan dan memasarkan karya, tetapi memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi pembaca. Sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan amanat Undang-Undang 1945, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0

No products in the cart.