Tanda baca merupakan komponen penting yang harus ada dalam sebuah kalimat maupun narasi. Tanda baca berfungsi untuk menunjukkan struktur tulisan, intonasi, dan jeda pada saat pembacaan. Berikut ini uraian penggunaan tanda baca titik dan koma dalam sebuah kalimat berdasarkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)

  1. Tanda baca titik (.)
  • Penanda akhir kalimat

Contoh: Dia pergi ke Jakarta sendirian.

  • Digunakan di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.

Contoh:

  1. Langkah Menulis
  2. Menentukan target pembaca
  3. Membuat kerangka tulisan
  4. Aplikasi pendukung editing
  5. KBBI
  6. Tessaurus Indonesia
  • Pemisah angka jam, menit, dan detik

Contoh: 01.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)

Pukul 06.05 (Pukul 6 lewat 5 menit)

  • Penulisan referensi

Contoh:

  1. Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Peta Bahasa di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta.
  2. Mayangsari, Agni S. 2019. Hearty Service. Malang: PT Litera Mediatama.
  • Pemisah bilangan yang menyatakan jumlah

Contoh: Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau.

Tidak digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatan yang tidak menunjukkan jumlah, akhir judul ilustrasi atau tabel, alamat dalam pengiriman barang, dan tanggal surat.

  1. Tanda baca koma (,)
  • Sebagai penanda pemerincian atau pembilangan

Contoh:

Ibu membeli beras, sayuran, buah-buahan, dan ikan segar.

  • Diletakkan sebelum kata penghubung (tetapi, melainkan, dan sedangkan)

Contoh: Adik ingin makan permen, tetapi giginya sakit.

  • Pemisah anak kalimat yang mendahului induk kalimat

Contoh: Agar bisa pergi ke pasar, ibu harus naik sepeda motor sejauh 6 km.

Tidak dipakai jika induk kalimat mendahului anak kalimat. Contoh: Saya akan datang kalau diundang.

  • Dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat (oleh karena itu, jadi, dengan demikian, dan kata penghubung antarkalimat lainnya).

Contoh: Anak itu rajin menabung. Oleh karena itu, dia bisa membeli mainan dengan uangnya sendiri.

  • Dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru (o, ya, wah, aduh, atau hai)

Contoh:

  1. Wah, cantik sekali!
  2. Adik kenapa, Bu?
  • Pemisah petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat

Contoh: Kata Ibu saya, “Nanti ajak temanmu mampir ke rumah.”

Tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang mengikutinya. Contoh: “Di mana kamu membeli buku ini?” tanya ibu.

  • Dipakai antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, serta nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Contoh: Sdr. Abdullah, Jalan Kayumanis III/18, Keluarga Kayumanis, Kecamatan Matraman, Jakarta 13130

  • Pemisah bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

Contoh: Mayangsari, Agni S. 2019. Hearty Service. Malang: PT Litera Mediatama.

  • Dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.

Contoh: Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia, Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.

  • Dipakai di antara nama orang dan singakatan gelar akademis yang mengikutinya

Contoh: B. Ratulangi, S.E.

  • Dipakai sebelum angka decimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Contoh: 2,5 km

  • Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi

Contoh: Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, harus mengikut latihan paduan suara.

  • Dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian.

Contoh

Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.

Bandingan dengan:

Dalam pengembangan bahasa kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0

No products in the cart.