Sumber:kumparan.com

 

Pernahkah kamu mengalami ketika mencoba menulis sebuah buku, berbagai materi telah dikuasai dan pengalaman pun sudah banyak didapatkan, tetapi tulisanmu tak kunjung usai? Setiap akan menulis, selalu ada saja alasan untuk menundanya. Mulai dari pekerjaan yang menumpuk, jadwal yang tak ada celah, hingga weekend yang merasa harusnya dihabiskan dengan bersantai ria. Di sisi lain, temanmu yang juga tidak kalah sibuk denganmu sudah menerbitkan bukunya bahkan saat ini ia sedang proses menulis buku kedua. Mengapa bisa demikian? Rupanya, ada satu faktor yang dimiliki temanmu, tapi tidak kamu miliki. Apa itu? Tekanan. Ya, dalam proses menulisnya ternyata temanmu ini selalu dalam tekanan.

 

Tekanan adalah Bahan Bakar

Ibarat mobil, tekanan layaknya bensin atau bahan bakar yang mampu membuat mobil bergerak. Tanpa bensin tentu mobil tak akan berfungsi dengan baik, sama seperti bila tanpa tekanan kamu akan merasa santai dan tidak tertantang untuk menyelesaikan tulisanmu. Tapi kalau menulis dengan tekanan bukannya malah tidak akan maksimal? Bila itu yang ditakutkan berarti kamu harus mengubah pola pikirmu terlebih dahulu.

Bila sebelumnya kamu takut mendapat tekanan, sekarang ubah menjadi siap menerima tekanan. Bila kamu menganggap tekanan itu buruk, sekarang ubah bahwa tekanan adalah hal yang mengiringi proses menulis dan mampu memacu agar naskah bisa segera terselesaikan. Lalu, dari mana kamu bisa mendapatkan tekanan ini? Kamu bisa mendapatkannya dengan mengikuti trainer menulis. Ketika mencoba menulis secara mandiri biasanya kamu merasa memiliki banyak waktu sehingga sering menundanya. Berbeda bila kamu mengikuti sebuah trainer atau pelatihan. Mau tidak mau kamu pasti menyelesaikan naskah sesuai jadwal agar tidak memperoleh punishment. Punishment inilah tekanan dari proses menulismu. Ini juga yang memotivasimu atau memberi bahan bakar agar bisa menyelesaikan naskah tepat waktu.

 

Tekanan adalah Jalan Menuju Potensi Terbaik

Tekanan dapat menunjukkan dirimu yang sesungguhnya. Itulah mengapa setiap tekanan yang datang harus dihadapi dengan positif. Bila dihadapi dengan negatif bisa jadi hasil yang tampak pada dirimu juga hal yang negatif pula. Namun, bila kamu menghadapinya dengan positif, tekanan bisa mengeluarkan potensi terbaikmu. Mungkin kamu berpikir iya bila tekanannya kecil, bila besar? Bila demikian berarti yang kamu butuhkan adalah dukungan dari orang lain, terutama yang mengalami hal serupa denganmu.

Kamu bisa menemukan orang-orang ini dengan mengikuti berbagai pelatihan seperti Book Writing Camp (BWC) maupun pelatihan menulis lain di sekitar. Dengan mengikuti pelatihan kamu akan bertemu banyak teman dari berbagai latar belakang, tapi memiliki keinginan yang sama untuk menciptakan sebuah buku. Dengan orang-orang inilah kamu bisa berbagi suka duka menghadapi tantangan sekaligus juga saling menyemangati. Berbagai tekanan yang datang pun tidak akan terasa berat. Justru, kamu rasakan sebagai motivasi agar bisa bersama menyelesaikan sebuah tulisan. Tanpa kamu sadari kamu pun berhasil menunjukkan kemampuan terbaikmu.

 

Tekanan mampu membuatmu sukses menulis bila kamu hadapi dengan positif pula. Oleh karena itu, buang jauh-jauh pikiran buruk tentang tekanan, hadapi saja dan nikmati segala prosesnya. Dengan demikian, kamu akan mampu menemukan bahwa motivasi terbesarmu dalam menulis adalah menerima dan menghadapi berbagai tekanan yang menghampiri.

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0

No products in the cart.