Siapa sih yang tidak mengenal KBBI? KBBI merupakan akronim dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Keberadaan KBBI sudah mulai dikenal oleh beberapa orang. Orang awam pun sudah mengetahui keberadaan KBBI meski tidak mengetahui namanya. Mayoritas orang hanya mengetahui bahwa di dalam bahasa Indonesia terdapat kamus yang berisi kata-kata dalam bahasa Indonesia beserta maknanya.

KBBI harus dipersiapkan ketika kita hendak mencari suatu kata yang kita tidak mengerti mengenai maknanya. Selain untuk mencari makna dari suatu kata, KBBI juga harus dipersiapkan oleh seseorang dalam kegiatan menulis maupun berbahasa. Sebelum memulai proses menulis, alangkah baiknya penulis mengenal KBBI terlebih dahulu. Selain PUEBI, KBBI adalah salah satu teman baik seseorang termasuk penulis. Seorang penulis harus benar-benar mengenal dan mengetahui KBBI. Bagaikan pena tanpa tinta, ketika KBBI tidak dilibatkan dalam kegiatan menulis maupun berbahasa penulis tidak akan lancar dalam menjalankan kegiatan tersebut. Pasti ada sesuatu yang terasa janggal jika seseorang tidak menggunakan KBBI dalam kegiatan menulis maupun berbahasa.

 

Tahukah sejarah kemunculan KBBI?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kamus resmi bahasa Indonesia yang disusun oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Kamus ini selalu dijadikan acuan atau patokan tertinggi oleh seseorang dalam mencari kata bahasa Indonesia yang baku sebab kamus ini merupakan kamus bahasa Indonesia yang paling lengkap dan akurat serta menjadi hak paten milik pemerintah Republik Indonesia dan dinaungi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Kemunculan KBBI dimulai pada tahun 1980an. KBBI memiliki 5 edisi. KBBI pertama kali diterbitkan pada tahun 1988. Edisi pertama KBBI ini merupakan hasil pengembangan dari Kamus Bahasa Indonesia yang telah terbit sejak tahun 1983. Pada saat itu, edisi pertama dari KBBI masih memuat 62.100 lema. Lema adalah kata atau frasa masukan yang berada di dalam kamus. Pada edisi kedua, KBBI diterbitkan pada tahun 1991. Kemunculan edisi kedua dari KBBI ini bertujuan untuk merevisi edisi pertama agar lebih sempurna. Edisi kedua KBBI ini mulai menambah jumlah lemanya menjadi 72.000 lema. Pada edisi ketiga, KBBI diterbitkan pada tahun 2005. Meski telah bertambah 5.000 lema, akan tetapi edisi ketiga dari KBBI ini masih belum memiliki kosakata yang berasal dari kamus istilah. Pada edisi ini, KBBI hanya berisi kosakata umum saja. Kemudian pada tahun 2008, KBBI hadir dengan edisi keempatnya. Pada edisi ini, kosakata dalam KBBI sudah menambahkan kosakata dalam kamus istilah sehingga KBBI memuat sebanyak 90.000 lema. Sayangnya, edisi keempat ini bukan edisi terakhir dalam perkembangan KBBI. KBBI memunculkan edisi terbarunya pada tahun 2016. Edisi kelima dari KBBI ini telah disahkan oleh Menteri Pendidikan, Muhadjir Effendy pada 28 Oktober bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Pada edisi ini, KBBI sudah memuat 108.000 lema. Peningkatan jumlah lema ini sangat pesat bila dibanding dengan edisi sebelumnya.

Di tengah-tengah kemunculannya, pada tahun 2008 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia membuat KBBI versi dalam jaringan (daring) atau online. KBBI versi daring ini memiliki 2 fasilitas bagi para penggunanya. Bagi pengguna umum hanya tersedia fasilitas untuk mencari lema dalam KBBI dan bantuan pencarian untuk lema yang tidak ditemukan. Berbeda dengan pengguna yang telah terdaftar. Bagi pengguna terdaftar, disediakan fasilitas pencarian lema berdasarkan abjad awal sebuah kata, popularitas entri, pencarian terakhir, kelas kata, dan lain-lain. Selain itu, pengguna terdaftar juga bisa memberikan masukan entri, makna, maupun contoh kata baru dalam KBBI.

Setelah mengenal sedikit seluk beluk kemunculan KBBI di dunia bahasa, masihkah kita tidak mengenal KBBI? Masihkah kita enggan untuk melibatkan KBBI dalam setiap kegiatan menulis maupun berbahasa?

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0

No products in the cart.