Kebiasaan membaca memang perlu dilatih sejak usia dini. Umumnya, jika ada anak yang mahir membaca saat masih balita pasti membuat orang tua merasa bangga dan kagum. Namun, bagaimana jika kemampuan membacanya itu di atas rata-rata kemampuan anak-anak lain seusianya? Apalagi hal tersebut bisa berdampak pada keterampilan berbahasa yang terhambat.

Tahukah kamu, kondisi di atas disebut dengan hiperleksia. Anak yang mahir membaca di usia dini, tetapi tidak dibarengi dengan kemampuan bicara yang setara. Mau tahu lebih jauh apa itu hiperleksia? Simak fakta-faktanya berikut.

 

Karkateristik Hiperleksia

Ada tiga karakteristik yang menggambarkan kondisi anak atau balita yang mengalami hiperleksia. Pertama, kemampuan membaca yang sangat baik di usia dini, jauh melebihi anak-anak lain seusianya. Kedua, kesulitan yang signifikan dalam memahami dan menggunakan bahasa verbal atau gangguan belajar non-verbal. Terakhir, kesulitan signifikan dalam mengahadapi interaksi sosial. Selain itu, ada beberapa sumber yang menyebutkan bahwa balita dengan hiperleksia juga sangat tertarik dengan angka dan huruf.

Sumber: id.theasianparent.com

 

Diagnosis Hiperleksia

Hiperleksia adalah kondisi yang kompleks. Diagnosis anak yang diduga mengalami hiperleksia adalah berdasarkan gejala dan perubahan yang ditunjukkan dari waktu ke waktu. Selain itu, dokter anak  dapat memeriksa pendengaran, penglihatan, dan refleks anak. Dokter anak mungkin akan butuh bantuan dari ahli medis lain, seperti psikolog, terapis wicara, dan ahli terapi perilaku. Tenaga profesional lainnya seperti guru pendidikan khusus, terapis okupasi, dan pekerja sosial juga mungkin dibutuhkan untuk memberikan diagnosis.

 

Mengenali Tanda dan Gejala Hiperleksia

Anak yang mengalami hiperleksia tidak beda jauh dengan anak yang berbakat dalam membaca. Beberapa hal berikut akan bisa membantumu untuk mengenali tanda dan gejala hiperleksia yang juga merupakan gangguan spektrum autisme.

  • Anak yang memang berbakat membaca, cenderung menurut jika diberi bimbingan atau tantangan lain, seperti membaca buku yang berbeda dan belajar kosakata baru dalam berbagai bahasan. Sementara itu, anak hiperleksia cenderung menolak tugas-tugas yang diberikan untuknya.
  • Anak yang berbakat membaca lebih tertarik untuk memahami makna dari setiap kata dan frasa yang digunakan. Sebaliknya, anak dengan hiperlekisa tidak tertarik pada kemampuan kata maupun frasa.
  • Anak yang berbakat dapat bertindak layaknya anak kecil, seperti marah, kasar, dan mementingkan diri sendiri. Akan tetapi, anak dengan autisme cenderung kurang sensitif terhadap perasaan orang lain, berbeda dengan anak-anak pada umumnya.

Sumber: cnnindonesia.com

 

Menangani Hiperleksia

Bagaimanapun juga, balita dengan hiperleksia memiliki kebutuhan dan masalah tersendiri. Menurut Susan Miller dalam bukunya yang berjudul Hyperlexia Handbook, A Guide to Intervention Strategies and Resources (1997), menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk menangani hiperleksia pada anak, di antaranya sebagai berikut.

  • Tidak berbicara terlalu cepat karena balita hiperleksia butuh waktu lebih lama untuk memahami komunikasi verbal.
  • Gunakan instruksi tertulis dan bantuan visual agar balita lebih mudah memahami sesuatu.
  • Rutin mengajak balita mengobrol untuk membantunya mengembangkan kemampuan bahasa, mengekspresikan diri, berkomunikasi, dan memahami ucapan lisan serta emosi orang lain.
  • Mengajarkan skill interaksi sosial melalui roleplay, berlatih percakapan, maupun mengajaknya melihat orang tua mengobrol dengan orang lain.
  • Dorong dan dukung balita untuk mengeksplorasi minatnya.

 

Hiperleksia bisa terjadi pada siapa saja. Namun jangan khawatir, dengan intervensi dan dukungan orang tua, kondisi hiperleksia pada balita dapat berdampak positif bagi kemajuan belajar si kecil. Kamu juga bisa loh berkonsultasi dengan ahli kesehatan atau terapis untuk mendapatkan penanganan yang lebih profesional. Bila kemampuan membaca anak di atas rata-rata merupakan sebuah bakat, ahli kesehatan juga dapat membantu mengasah kemampuannya tersebut.

Selain pergi ke terapis, kamu juga bisa loh baca buku-buku atau literasi mengenai kemampuan belajar anak. Kamu juga bisa menemukan e-course kepenulisan yang mengusung tema serupa. Para penerbit buku pun kini sudah banyak yang menerbitkan buku tentang kemampuan anak, penerbit buku Malang, misalnya.

Bagikan Ke:
Leave a Reply

Shopping cart

0

No products in the cart.